BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
EDITORIAL
Home » Blog » Euforia Takhta dan Arogansi Panggung Politik

Euforia Takhta dan Arogansi Panggung Politik

Catatan: Yosef Sumanto

“Kita semua adalah pendosa yang selektif. Kita memilih dosa yang nyaman bagi kita dan menghakimi orang lain yang melakukan dosa yang tidak nyaman bagi kita.” — Shams Tabrizi

Ketika seseorang telah duduk di atas takhta kekuasaan, godaan terbesar bukanlah seberapa besar kewenangan yang digenggam, melainkan bagaimana ia menjaga kejernihan akal budi dan kebesaran jiwa. Kecerdasan sejati dan ilmu filsafat tidak pernah diajarkan untuk merendahkan, melainkan untuk membawa pencerahan serta manfaat yang seluas-luasnya bagi banyak orang.

Namun, panggung politik kerap kali mempertontonkan kontradiksi yang menyayat hati: keelokan retorika politisi yang justru meluncurkan pernyataan-pernyataan merendahkan terhadap pemimpin politik di tingkat lokal. Alih-alih merangkul dengan kebijaksanaan atau mendidik publik dengan diskursus yang mencerahkan, narasi yang dibangun sering kali berjarak dari substansi kenegarawanan, terjebak dalam insting menghakimi, serta gagal menghadirkan teladan yang konstruktif bagi masyarakat luas.

Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut oleh sosiolog politik sebagai krisis etika kekuasaan—di mana kekuasaan sering kali menjauhkan seseorang dari realitas akar rumput, melahirkan arogansi struktural yang mereduksi esensi pelayanan publik menjadi sekadar panggung pamer superioritas. Sebagaimana diingatkan oleh filsuf politik Hannah Arendt dalam refleksinya mengenai kekuasaan dan otoritas, ketika diskursus publik kehilangan kualitas moral dan substansi rasionalnya, politik merosot menjadi sekadar instrumen dominasi alih-alih ruang deliberasi untuk merawat keadaban bersama.

Seksi Gender DPP Habi Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi dan Manajemen Keuangan Keluarga

Menjaga Integritas di Tengah Ujian Kekuasaan

Menghadapi dinamika yang kerap mencederai nalar sehat tersebut, perjalanan kepemimpinan di tingkat lokal tidak pernah dirancang untuk berjalan mulus tanpa hambatan. Dalam kacamata psikologi kepemimpinan dan sosiologi moral, proses ini mencerminkan apa yang dianalisis oleh sosiolog terkemuka Max Weber dalam esainya Politik sebagai Panggilan Hidup (Politik als Beruf), di mana seorang pemimpin sejati diuji oleh dua hal utama: Gefühl der Verantwortlichkeit (rasa tanggung jawab yang mendalam) dan Augenmaß (proporsionalitas atau ketenangan pandangan).

Ketika langkah seorang pemimpin lokal dipenuhi dengan penolakan, kesalahpahaman, dan hambatan struktural yang melelahkan, Weber mengingatkan bahwa politik bukanlah sekadar jalan kemudahan, melainkan medan perjuangan yang menuntut “ketahanan jiwa yang lambat namun tabah” (das starke lange Bohren von harten Brettern). Rintangan tidak pernah otomatis berarti seseorang berada di jalan yang salah; sebaliknya, ujian-ujian tersebut adalah kawah candradimuka yang mematangkan karakter, menguji ketulusan niat, dan memastikan bahwa pundak yang mengemban amanah benar-benar kokoh. Sesuatu yang bernilai luhur di tengah masyarakat tidak pernah lahir dari proses instan, melainkan dari tempaan panjang yang menguji ketahanan moral.

Lebih jauh lagi, sosiolog Robert K. Merton dalam teorinya tentang strain theory dan konsekuensi tak terduga (unanticipated consequences of purposive action) sering mencatat bahwa individu yang memegang teguh cara-cara yang sah (conformity) sering kali harus menghadapi tekanan struktural yang berat dari sistem yang korup atau pragmatis. Di sinilah relevansi keteguhan etis menjadi krusial. Berjalan di jalur yang benar bukan hanya tentang menggapai hasil akhir, melainkan tentang kesucian cara (means) yang ditempuh.

Kejujuran saat ada kesempatan untuk menyimpang, kesabaran saat hasil belum terlihat, dan keteguhan menjaga prinsip ketika banyak pihak memilih jalan pintas adalah bukti otentik bahwa seseorang sedang membangun fondasi peradaban yang kokoh dari bawah. Tuhan dan sejarah tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga menghitung setiap niat dan langkah kecil yang ditempuh dalam kejujuran perjalanan ini.

Konggregasi St. Ana Paroki Habi Nyalakan Api Iman Lewat Lomba Kitab Suci dan Liturgi

Percayalah, tidak ada kebaikan yang dilakukan dengan tulus yang benar-benar sia-sia. Dalam pandangan teologis dan spiritual yang mendalam, penundaan atau hambatan sering kali adalah cara-Tuhan mempersiapkan waktu terbaik bagi tumbuhnya sebuah kebaikan. Tugas seorang pemimpin pembawa perubahan bukanlah memaksakan kehendak instan, melainkan terus berikhtiar, memperbaiki diri, lalu menyerahkan hasilnya kepada kebijaksanaan-Nya—sebab ketenangan batin hanya lahir ketika ikhtiar yang gigih dan tawakal berjalan seiringan.

Maka, jika hari ini jalan terasa berat dan diskursus nasional terasa tidak adil, jangan buru-buru kehilangan keyakinan. Selama niat lurus, cara benar, dan hati tetap berpaut kepada Tuhan, teruslah melangkah. Apa yang memang pantas untuk diperjuangkan tidak akan tertukar, dan apa yang telah ditetapkan tidak akan terhalang oleh arogansi apa pun. Pada akhirnya, ujian-ujian ini hadir bukan untuk menghentikan langkahmu, melainkan untuk menghantarkanmu menuju tujuan mulia yang telah disiapkan-Nya dengan sebaik-baiknya. (*)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement