Serba Serbi NYD III di Maumere
Catatan: Yosef Sumanto
Gelaran Nusa Tenggara Youth Day (NYD) III yang berpusat di Stadion Gelora Samador, Maumere (2–5 Juli 2026), tidak hanya menjadi panggung perjumpaan bagi 800-an Orang Muda Katolik (OMK) dari 9 keuskupan. Di balik keriuhan perhelatan akbar tersebut, tersimpan sebuah narasi privat yang menyentuh jiwa: sebuah reuni keluarga yang telah terpisah oleh waktu selama 45 tahun.
Ziarah Batin di Tanah Leluhur
Di tengah padatnya rangkaian acara NYD, Albertus Glory Nathanael Hingmadi—atau yang akrab disapa Natan—mengemban misi yang lebih personal. Wakil Ketua OMK Paroki Praya, Lombok Tengah, ini membawa amanat dari orang tua dan kakeknya untuk mencari jejak leluhur di Natar Weko, Maumere.
Berpegang teguh pada pepatah “malu bertanya sesat di jalan,” Natan memberanikan diri membuka diri kepada keluarga tempatnya menginap di Nita. Kesempatan ini menjadi pintu gerbang; keluarga tersebut ternyata memiliki koneksi langsung dengan kampung halaman leluhur Natan di Weko. Bak gayung bersambut, setelah melalui komunikasi yang intens, Natan akhirnya dihantar menuju Kampung Weko, Desa Langir, Kecamatan Kangae, Minggu, 5 Juli 2026, tepat sebelum acara penutupan NYD di Seminari Tinggi Ritapiret.
Pertemuan Mengharukan di Natar Weko
Setibanya di rumah Bapak Thomas Suparis, suasana berubah menjadi momen yang sarat akan rasa syukur, haru dan bahagia. Natan, yang merupakan cece dari mendiang Opa Paulus Sareng—seorang purnawirawan polisi yang mengabdi di Lombok Timur—dipertemukan dengan Bapak Thomas Suparis. Dalam silsilah adat Loka Kekan, Natan dengan takzim menyapa Bapak Thomas sebagai Ama Gete (Bapak Besar).
Pertemuan ini bukan sekadar tatap muka. Momen jabat tangan dan pelukan hangat di Weko itu segera tersambung ke ruang digital, menghubungkan keluarga besar di Lombok dan Kupang melalui panggilan telepon. Ketegangan kerinduan selama 45 tahun akhirnya pecah menjadi rasa syukur dan bahagia yang kolektif.
Menjawab Misteri Silsilah dalam “Mo’an Kekan: Kesatria Pendamai”
Bagi Bapak Thomas Suparis, kehadiran Natan adalah jawaban atas doa yang lama terpendam. Ia mengenang kembali tahun 1981, saat putra Opa Paulus Sareng, Bapak Aleks Sareng, terakhir kali berkunjung ke Weko. Setelah empat dekade berlalu, kehadiran Natan yang baru menyelesaikan pendidikan SMA di Lombok Tengah ini menjadi penanda kembalinya keturunan sang “Kesatria Pendamai” ke tanah asal.
Bapak Thomas mengungkapkan dengan mata berkaca-kaca: “Ini berkat kuasa Tuhan. Ia mengijinkan anak Natan ke Maumere mengikuti kegiatan orang muda katolik di Maumere, maka kerinduan itu akhirnya datang melalui kehadiran anak Natan. Kalau tidak ada kegiatan orang muda, belum tentu kita bertemu dengan keturunan Opa Paulus Sareng.”
Pertemuan ini membawa dampak signifikan bagi dokumentasi sejarah keluarga. Saat ini, keluarga besar di Weko tengah menyusun buku “Mo’an Kekan: Kesatria Pendamai”. Sebelumnya, silsilah keturunan Mo’an Kekan (moyang)—mulai dari anak pertama Opa Petrus Nurak hingga anak bungsu Opa Paulus Sareng—menjadi narasi yang belum terpetakan secara pasti. Khusunya Opa Paulus Sareng dan keturunannya, karena selama 45 tahun Opa Paulus Sareng dan keluarganya hilang komunikasi dengan keluarga besar Loka Kekan di Weko.
Kini, melalui kehadiran Natan, kepingan sejarah tersebut telah lengkap. Narasi dalam buku tersebut akan segera disempurnakan, mencatat secara utuh garis keturunan yang sempat terpisah karena tugas negara, namun dipersatukan kembali oleh semangat persaudaraan dalam iman di tanah leluhur. Perjalanan Natan ke Maumere bukan hanya sekadar mengikuti agenda OMK, melainkan sebuah takdir yang berhasil merajut kembali simpul keluarga Loka Kekan yang sempat terurai selama hampir separuh abad. (*)




Comment