Catatan: Benediktus Kasman
Pada setiap tanggal 26 Juli diperingati Hari Mangrove Sedunia ditetapkan UNESCO sejak tahun 2015. Tujuannya meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove.
Mohamad Hamzah telah ikut berjuang keras merehabilitasi lahan-lahan yang tergerus abrasi dengan menanam mangrove atau bakau. Ia memelopori gerakan aksi konkret untuk merehabilitasi titik-titik tertentu diawali pada 2004. Tahap pertama ditanam di lokasi di Nampar, pantai Medang seluas 50 hektar.
Disusul tahap kedua seluas 100 hektar di daerah Samba, Nanga Kantar dan teluk Leka. Pada 2008 dilakukan penanaman anakan bakau di lahan seluas 100 hektar di Nanga Wae. Kemudian dilanjutkan penanaman seluas 240 hektar dan tahap berikutnya pada 2015 ditanam seluas 120 hektar. Semua lokasi penanaman bakau tersebut berada di Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Flores-Nusa Tenggara Timur.
Dampak kegiatan mantan sekretaris desa selama 40 tahun ini ternyata tidak sebatas desanya saja. Hamzah kelahiran pada 1952 juga melakukan perluasan penanaman bakau di kawasan pantai Nangalili, Kecamatan Lembor Selatan, pada 2014. Pembiayaan bersumber dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Salah seorang alumni sekolah dasar Rekas pada 1962 ini tergerak karena penduduk kampung Terang dan pasar Terang yang berada di dekat pelabuhan rakyat nan tua ini kian bertambah. Jumlahnya meningkat dari 741 kepala keluarga sudah mencapai 900 kepala keluarga. Selain itu hari Kamis setiap pekan menjadi ramai sebab hari pasar. Manusia datang berjualan dari kampung-kampung terdekat. Perahu motor dan ketinting sebagai transportasi utama memadati pelabuhan teluk Terang.
Lalulintas di teluk semakin sibuk. Kadang sampah dibuang tanpa kendali. Jelas bakau di sepanjang teluk sedikit demi sedikit kena gangguan. Ditambah peristiwa alam seperti abrasi dan banjir. Sebab kadang tak disadari abrasi melindas bibir tanah di sepanjang muara Sunga Terang saban hari. Jika semuanya tidak diatasi sedini mungkin maka wilayah tempat tinggal warga bakal menyempit. Perolehan hasil tangkapan nelayan pun berkurang lantaran populasi habitat laut kian menipis.

Melihat keadaan ini terasa menyedihkan. Oleh karena itu pada 2004, ia mulai coba menggugah perhatian warga dengan cara menanam anakan bakau di sekitar muara Terang dekat lokasi pasar dan pelabuhan rakyat. “Saat itu plastik koker dibeli pakai uang sendiri dulu. Kemudian bikin koker sendiri. Kalau sudah hidup di koker baru ditanam. Awalnya, pakai uang sendiri bikin koker. Dibayar setelah koker hidup,” tambah Marpuah (1958), istrinya yang dengan sabar dan aktif mendukung perjuangan suaminya .
Pasutri pekerja keras membangun daerah yang berdiam di RT 03, Desa Golo Sepang mengakui bahwa tak semua orang menerima kerja tanam bakau ini. Malah ada pihak lain menebarkan prasangka bahwa pihaknya sudah menjual lahan bakau kepada pihak asing. Namun dampak bagi warga nelayan bisa menepisnya.
Kini, nampaknya keadaan bakau semakin membaik setelah ada intervensi program. Ketika tanaman bakau bertambah jumlahnya maka kepiting pun berkembang dengan baik. Tatkala lingkungan bakau berkembang bagus maka kepiting menjadikannya “rumah besar” yang aman untuk tinggal dan juga sebagai ‘kamar pengantin’ buat bekembang biak. Dan itu terbukti. Ia merasakan manfaat dari perjuangannya. Dan nelayan bersaksi akan kegunaan bakau. Salah seorang nelayan muara Terang merasakan manfaatnya.
Kepiting, udang, kera, burung angsa putih dan madu sudah perlahan meningkat. “Hasil tangkapan kepiting cukup lumayan. Seekor kepiting beratnya 0,5 kilogram. Dua ekor bisa mencapai 1 kilogram. Harga kepiting (rukus) Rp 35 ribu perkilogram,” tutur Masni di RT 02, Desa Golo Sepang di kediamannya di muara Terang dengan senyum malu-malu. “Udang segar tak sulit diperoleh. Harga udang dari nelayan Rp 25 ribu”, tutur Eni (46) mengakui berkah kondisi bakau yang baik.
Kerja kerasnya pun telah mendapat apreseasi dari beberapa intansi , seperti penghargaan sebagai tokoh masyarakat dari Kapolres Mabar dalam tugas KAMTIBMAS pada 14/1/2011, Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, penghargaan dari Pemerintah Manggarai Barat sebagai pelopor melakukan rehabilitasi lahan secara swadaya, No.DK.522.5/177.5/XI/2013, penghargaan dari Pemda Manggarai Barat sebagai juara I atas nama Kelompok Tani Lestari Alam dalam pelaksanaan kegiatan gerakan nasional rehabilitasi lahan tahun 2004 tingkat kabupaten. Bebagai pelatihan tingkat daerah, regional dan nasional sudah diikutinya.
Salah satu peserta pelatihan JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk 24 provinsi di Indonesia di Bali dan pelatihan 40 jam pelajaran tentang pengelolaan hutan mangrove bagi masyarakat pesisir se-Indonesia oleh Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Kehutanan Sosial-Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I, pada 6-10/08/2007. “Saat pelatihan di Bali, saya membagi pengalaman cara tanam bakau di tempat berpasir yang tak ada lumpur. Gali lubang 1 x 1 meter. Isi lumpur laut sampai penuh. Tahun ke-5 tanaman itu menjadi sebesar paha orang dewasa sambil menepuk pahanya dan jamin tak bakal mati,” katanya dengan suara tegas. (*)




Comment