BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
EDITORIAL
Home » Blog » Ee…Tahu Tahunya Begitu Saja!

Ee…Tahu Tahunya Begitu Saja!

Catatan : Benediktus Kasman

“Anak di Kos Keluar masuk laki-laki, Orang tua di rumah Keluar masuk koperasi”

Empat belas kata itu meriasi pintu mobil truk di bagian belakang yang sedang parkir untuk siap memuat ribuan buah kelapa di pedusunan pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Aku terdiam sejenak sambil membaca dalam hati dan bermenung. Tulisan graffiti itu kemudian membangkitkan kesadaranku akan belang-belang di dunia persekolahan. Pesan dibaliknya seakan menggunjingkan pergaulan putra-putri yang sedang menempuh pendidikan formal. Frasa tersebut menyampaikan pesan dengan jujur perilaku sosial anak sekolah yang kurang pas yang tak terkuak atau kisah ketidakpatutan yang tidak terkatakan.

Faktanya bahwa anak perempuan sering menerima kunjungan laki-laki di kosnya. Tinggal di kos idealnya bahwa pergaulan sedikitnya dapat terpantau dari hal yang tak diharapkan. Ternyata hunian kos bikin begitu-begituan. Anak perempuan terjerumus rayuan laki-laki dan atau lak-laki memainkan jebakan-jebakan sambil menggiring perasaan perempuan ke dalam cinta terlarang.

Dan kata-kata graffiti berikutnya mengkomunikasikan tentang keadaan orang tua di rumah. Ayah dan ibu tak habis akal berjuang mencari sejumlah uang dengan banyak cara untuk memenuhi kebutuhan anak sekolahnya. Dan salah satu jalannya adalah berutang dengan mengajukan pinjaman berbunga pada lembaga keuangan bernama koperasi.

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Aku ingat lagi bau baju keringat orang tua yang tak lelah bekerja ketika membaca tulisan grafiti pada truk itu. Tiba-tiba membayangkan kembali pengalaman mereka  bekerja dengan susah. Bila kerja fisik dan peras otak untuk ongkos sekolah ditulis toh tak akan ada akhirnya.

Kemudian aku memutuskan untuk meminjam ungkapan bahasa Inggris yang menggambarkan tentang kerja keras orang tua: Man works from rise to set of sun, woman man’s works is never done”- Lelaki bekerja selama matahari terbit sedang perempuan bekerja tiada henti-hentinya. Sang ayah kerja banting tulang dan ibu lintang pukang mengurus cicilan utang di koperasi.

Niscaya pada awalnya anak menyadari akan kucuran keringat bermanik-manik dari orang tua. Namun, setelah beberapa tahun anak bersekolah dan tinggal di kos terjadilah perubahan. Cita-cita tunggal meraih kesuksesan di dunia pendidikan tak mudah terwujud. Ia berhaluan ganda: sekolah dan pacaran.

Cita-cita merampungkan sekolah berbaur dengan mabuk asmara yang tak tertahankan. Pergaulan di luar sekolah tak terkontrol. Belakangan diketahui dari tersingkapnya kisah buram pacaran ke ruang publik cas cus cis perihal skandal seks bebas. Berita suram tak hanya mengagetkan orang tua tapi publik pun tahu tentang perilaku yang tak patut dari anak sekolah yang mengambil tempat tinggal di kos selama masa studinya.

Aku menangkap makna grafiti tulisan pada truk adalah kritikan. Penulisnya anonim-nama tak tercantumkan. Pesan kritikannyaterkesan kekanak-kanakan dan vulgar. Tapi, kritikannya tetap relevan melintasi zaman yang silih berganti. Dari zaman ke zaman ada saja media yang digunakan untuk membongkar pergaulan yang terjadi pada generasi muda. Selain graffiti ada juga yang  disampaikan berupa karya tulis metafora. Atau lagu pun dijadikan sarana untuk mengungkapkan ketidakwajaran hubungan sosial akibat pergaulan bebas.

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

Koes Plus musisi kesohor pernah menyuarakan fakta sosial yang pincang. Ia mengritik pergaulan bebas di kalangan pemuda pada masanya. Dari kenyataan itu dinyanyikannya dalam lirik lagu yang dirilis 1973:

“Muda-mudi jaman sekarang, Pergaulan bebas nian, Tapi sayang banyak salah jalan…”

Pada suatu zaman di masa silam pun dikenal kata-kata akronim gaul perihal distorsi relasi manusia, seperti Kera dan Kentut. Kalau kejadian kepincangan seks dilakoni kaum muda disebut Kera. Kata Kera bukan merujuk pada hewan Kera namun, singkatan dari kenakalan remaja. Dan kritikan atas tingkah kaum tua yang ‘makan buah terlarang’ diringkas menjadi Kentut. Kentut bukannya angin berbau tak sedap yang keluar dari manusia atau ternak tapi, akronim dari kenakalan tua-tua.

Pergaulan manusia saat ini toh tak sedang tidak baik-baik saja. Dan anak-anak sekolah yang mendiami kos pun masih belum tuntas kisah kasih cinta tabu. Frasa graffiti-corat-coret atau coretan, goresan dan guratan bertema gurita cinta tetap viral:

“Bukan kos campur, cinta yang campur aduk” ‘Cinta terlarang sekali coba, susah lupa” “Dinding kosan tipis, pelukan kita terasa hangat” “Buah terlarang rasanya paling manis”

Pemimpin

Ihwal kencan rahasia atau cinta terlarang diungkapkan penulis kreatif dengan menggunakan aneka media. Ekspresi dan pikiran yang dituangkan dengan kata-kata bernuansa cinta dapat ditemukan pada oto truk, dinding-dinding di gang atau lorong-lorong jalan. Ada penulisnya anonim dan yang lainnya berani mencantumkan nama. Tapi juga dari bacaan di media cetak dan media sosial.

Plato menrangkai pengalaman percintaan bermasalah dengan kata-kata: “Aku tidak bisa makan, aku tak bisa minum, kesenangan masa muda dan cinta telah hilang: dulu ada saat-saat yang menyenangkan, tapi sekarang sudah berlalu, dan hidup bukan lagi hidup”. (*)

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement