BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
EDITORIAL
Home » Blog » Dongeng Kakek-Nenek: “Ikan Kering Tetawa”

Dongeng Kakek-Nenek: “Ikan Kering Tetawa”

Benediktus Kasman

Catatan: Benediktus Kasman

Tanggal 29 Juli dikukuhkan sebagai hari khusus bagi kakek-nenek.

Barangkali ini kesempatan emas untuk bernostalgia tapi sekaligus memberikan penghargaan atas aneka dongeng bermakna pesan advis dan edukasi tradisional ala kakek dan nenek saat mengaso di zaman dahulu kala. Mereka berkomunikasi dengan logika simbol.

Persoalan yang sensitif yang terjadi di kalangan tokoh-tokoh terpandang dalam masyarakat atau penguasa beserta keluarganya niscaya dikisahkan secara tak berterus terang berupa simbol.

Untuk mengartikannya dibutuhkan kemampuan interpretasi agar memahami soal yang sebenarnya. Dan keberanian untuk menginformasikan hasil tafsiran itu sebagai solusi kepada pihak yang bermasalah.

Salah satu Dongeng Manggarai, Flores Barat-NTT berkisah tentang masalah yang dihadapi penguasa bernama Sultan Bima diselesaikan oleh dukun bernama Mbojol.

Jokowi, Legitimasi Kultural Raja Timor dan Manifesto Politik Masa Depan

Masalah yang dihadapi Sultan Bima adalah Ikan kering tertawa. Ia mengirim surat kepada Raja Bung Bajo untuk meminta warga yang mampu menafsir arti peristiwa di kediamannya. Mbojol salah seorang dukun sukses menyelesaikannya dan dia dihadiahi kapal dilengkapi anak buah serta barang.

Sultan Bima mengalami peristiwa aneh. “Di rumah saya ada seekor ikan kering. Kalau saya pulang kerja dari kantor, ikan tersebut tertawa terbahak-bahak. Apa pesan dan gelak tawa itu…”

Mbojol seorang dukun mendapatkan arti peristiwa yang dialami Sultan Bima. Dia memeroleh pesan dari Kepiting dalam lubang gua. Kepiting menyampaikan arti kepada Mbojol bahwa gelak tawa ikan itu bermakna istri Sultan Bima memiliki pemuda simpanan yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur…”

Cuplikan kisah dongeng tentang Sultan Bima yang menghadapi masalah dalam istananya disampaikan dengan komunikasi logika simbol. Dan dukun bernama Mbojol menyelesaikan secara lugas buka-bukaan masalah yang sesungguhnya terjadi. Masalahnya menjadi terang benderang.

Sumber solusinya dari kepiting di gua saat ia berlindung dari serangan kebakaran padang rumput. (“MBOJOL DAN SULTAN BIMA” hlm.50-55 dalam Robert Mirsel, SVD (Ed), Jilis VERHEIJEN,SVD Dongeng-Dongeng MANGGARAI JILID 1. Penerbit Ledalero. 2006).

Menakar Substansi di Balik Retorika “Buta Kenop”

Kakek dan nenek senantiasa memprediksi dan berasumsi bahwa cucu-cucunya bakal hidup di bumi yang penuh kekejaman, kesedihan, dan kemarahan serta janji-janji nan gemilang.

Kakek dan nenek pada zaman tempo dulu mewarisi nilai-nilai religiositas dalam banyak kesempatan dengan dongeng lisan. Salah satu cara dengan memanfaatkan waktu mengaso sambil menanti masakan bikinan ibu disediakan untuk makan malam bersama dalam satu keluarga. Juga digunakan saat berbaring setelah makan menantikan tibanya rasa mengantuk menjelang tidur malam.

Selain pendidikan dan nasihat tapi ada pula cerita dan dongeng tentang solidaritas kelompok, protes (emansipasi), pengawasan sosial terhadap nilai-nilai.

Advis dan edukasi tentang saling menghargai di antara turunan semoyang, dua hingga tiga moyang bersaudara. Diceritakannya dengan lugas atau juga disampaikan berupa legenda.

Berbeda dengan WS Rendra, dramawan, penyair beken yang menyuarakan keresahannya tatkala menyaksikan peri hidup generasi tua yang gagal mengurus negeri ini dan peradaban yang kian melorot serta kerisauan yang mendalam atas masa depan generasi pewaris keberlanjutan bangsa Republik ini. Sang Burung Merak itu mengungkapkan rasa sedih, prihatin dan kesal atas krisis keteladanan yang dipertontonkan bangsa kita di hadapan ribuan mata para cucu. Semua hal itu diungkapkannya di Cipayung pada 4 April 2006 dalam Sajaknya MASKUMAMBANG:

Menyinari Zaman Lewat Teladan Iman: Perayaan Hari Raya Sta Ana dan St. Yoakim TPAPT HABIKEWA di Wairita

“…Cucu-cucuku!

Zaman macam apa, peradaban macam apa,

Yang akan kami wariskan kepada kalian!

Jiwaku menyanyikan tembang maskumambang

Kami adalah angkatan pongah

Besar pasak dari tiang

Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan

Karena kami tidak menguasai ilmu

untuk membaca tata buku masa lalu, dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini maka rencana masa depan hanyalah spekulasi keinginan dan angan-angan…”

Sajak dan dongeng merupakan metode ‘dua mata’ untuk mengungkapkan kenyataan atau peristiwa yang diwariskan dari kakek dan nenek. Sajak mengajar aku untuk berpikir imajinasi dan dan dongeng purba menuntun aku untuk berpikir simbol. Semuanya tak dapat aku balas.

Tapi, kakek dan nenek pernah kudengar pesanya: Bagaimanakah sukacita kami yang terbesar? Yakni mendengar bahwa cucu-cucu kami hidup dalam kebenaran (3 Yoh 1:4). Dan cucu adalah mahkota bagi orang tua dan kebanggaan bagi kami melihat kalian di jalan yang lurus (Amsal 17:6). (*)

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement