Catatan: Yosef Sumanto
Peristiwa penobatan Joko Widodo sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor oleh delapan raja di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, merupakan sebuah titik temu yang sarat makna antara tradisi kultural, etika politik kenegaraan, dan kalkulasi strategis elektoral.
Terlepas dari berbagai riak kecemasan yang ditunjukkan oleh sebagian elite politik, peristiwa ini memancarkan pesan sosiopolitik yang dalam mengenai bentuk kepemimpinan yang berakar di hati rakyat.
1. Legitimasi Kultural dan Matinya “Menara Gading”
Prosesi penobatan yang melibatkan delapan raja besar—mulai dari Raja Wewiku-Wehal, Raja Amanatun, Raja Amanuban, Raja Mollo, Raja Biboki, Raja Bikomi Nilulat, Raja Amfoang, hingga Raja Nisnoni—bukanlah sekadar seremonial adat. Ini adalah bentuk legitimasi moral dan kultural tertinggi di daratan Timor yang memposisikan Jokowi bukan lagi sebagai aktor elektoral semata, melainkan sebagai “orang tua adat” yang menyatu dengan denyut nadi masyarakat lokal.
Jika dibaca melalui kerangka etika politik Franz Magnis-Suseno, fenomena ini merepresentasikan antitesis dari apa yang disebut sebagai kekuasaan yang mengasingkan atau pemimpin yang tinggal di “menara gading.” Sambutan ribuan warga di kawasan Pantai Lahi Lai Besi Kopan (LLBK) dalam Karnaval Gajah yang hadir secara spontan tanpa rekayasa pengerahan massa (mobilisasi artifisial) merupakan indikator autentik dari relasi kekuasaan yang sehat. Inilah wujud nyata dari servant leadership (pemimpin yang melayani). Rakyat tidak melihat Jokowi sebagai sosok yang ditakuti, melainkan figur bapak bangsa yang mengayomi dan dirasakan kehadiran nyatanya.
2. Anomali Elite: Antara Paranoia Politik dan Krisis Kenegarawanan
Di sisi lain, respons reaktif dan kekhawatiran berlebihan yang diperlihatkan oleh sebagian politisi—mencerminkan sebuah kecemasan struktural (political anxiety). Dalam kacamata etika politik, reaksi semacam ini menampakkan gejala krisis kenegarawanan. Para elite sering kali terjebak dalam kalkulasi kekuasaan yang sempit, merasa terancam oleh bayang-bayang popularitas kultural yang tidak mampu mereka jangkau.
Magnis-Suseno menekankan bahwa politisi yang matang secara etis seharusnya mengedepankan rasionalitas, objektivitas, dan kedewasaan berdemokrasi. Ketika kehadiran seorang warga negara (sekalipun mantan presiden) disambut rakyat secara wajar lalu direspons dengan kepanikan politik, hal itu menunjukkan bahwa para elite tersebut lebih mementingkan kalkulasi kekuasaan sempit ketimbang merawat etika kebangsaan dan kedewasaan publik.
3. Sosiologi Ruang dan Geografi Simbolik: Mengapa Daratan Timor?
Pemilihan daratan Timor—khususnya Kota Kupang dengan pesisir Pantai Lahi Lai Besi Kopan (LLBK)—sebagai episentrum penobatan memiliki signifikansi spasial yang kuat:
- Pesisir dan Titik Temu Peradaban: Secara historis, pesisir Timor adalah gerbang pertukaran kultural dan geopolitik di kawasan Nusantara bagian timur. Dengan membingkai acara di ruang publik terbuka (Karnaval Gajah di ruang publik LLBK) yang berdampingan langsung dengan legitimasi tertutup para raja, terjadi proses demokratisasi simbolik.
- Meruntuhkan Pusat-Sentrisme Jawa: Selama puluhan tahun, konstelasi kekuasaan nasional selalu dibaca melalui kacamata “Jawa-sentris”. Penobatan di Timor mengirimkan pesan spasial yang radikal: pusat gravitasi politik baru dapat diciptakan di pinggiran (periferi). Ruang publik di Timor diubah menjadi etalase politik nasional, membalikkan struktur hierarki di mana wilayah luar Jawa sering kali hanya diposisikan sebagai objek pasif pendulang suara, bukan sebagai subjek pemberi restu tertinggi (king-maker kultural).
4. Hegemoni Kultural ala Gramsci: Pertarungan antara Raja Adat dan Elite Parlemen
Jika kita meminjam konsep hegemoni kultural Antonio Gramsci, kekuasaan tidak hanya ditegakkan melalui paksaan (koersi) atau institusi formal (parlemen/pemerintahan), melainkan melalui konsensus budaya dan moral (civil society).
- Dua Kutub Otoritas: Reaksi reaktif para politisi menunjukkan kepanikan kaum elite formal ketika menghadapi pemilik hegemoni tradisional. Para raja di daratan Timor adalah penjaga historical bloc (blok historis) lokal yang menguasai kesadaran kolektif masyarakat.
- Ketika delapan raja menobatkan Jokowi sebagai Sesepuh, otoritas kultural tersebut memberikan moral leadership (kepemimpinan moral) yang jauh lebih mengakar dibandingkan legitimasi prosedural para politisi yang sering kali berjarak dari rakyat. Di sinilah letak ancaman yang dirasakan para elite: mereka sadar bahwa suara di bilik suara (elektoral) sangat ditentukan oleh restu kultural semacam ini, sebuah wilayah yang gagal mereka masuki karena terjebak dalam sekat-sekat birokratis dan elitis.
5. “Politik Tanpa Beban” dan Transmisi Simbolik kepada Generasi Baru
Menarik untuk melihat bagaimana transisi pengaruh ini bekerja secara pragmatis melalui kehadiran Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, yang dibarengi dengan Karnaval Gajah.
- Keluar dari Bayang-Bayang Birokrasi: Seorang pemimpin yang telah menyelesaikan masa baktinya (purnatugas) berada dalam posisi unik yang disebut sebagai politik tanpa beban—tidak lagi terikat beban birokrasi, konflik kepentingan kebijakan harian, atau kompromi koalisi kekuasaan eksekutif. Kebebasan ini memungkinkan Jokowi sepenuhnya bergerak di atas rel kultural dan kerakyatan.
- Transfer Modal Sosial: Ketika figur dengan wibawa moral semacam ini mendampingi kepemimpinan partai muda (PSI) di basis-basis teritorial baru seperti Timor, terjadi transfer modal sosial (social capital transfer). Pemilih muda dan masyarakat adat di Timor tidak melihat PSI sekadar sebagai entitas partai politik baru dari Jakarta, melainkan sebagai wadah yang mendapatkan “restu leluhur dan adat” melalui figur Sesepuh Raja-Raja Timor. Ini adalah cara paling elegan untuk menanamkan akar ideologis tanpa terasa doktriner.
6. Menjawab Kegelisahan Elite: Perubahan Peta Elektoral Indonesia Timur
Safari politik ini menandai sebuah konversi strategis: mengubah legitimasi kultural menjadi modal politik teritorial. Para elite politik tradisional menyadari bahwa masuknya instrumen “Karnaval Gajah” yang dibarengi dengan pengukuhan adat tertinggi bukanlah agenda kampanye biasa. Ini adalah upaya penetrasi terstruktur untuk merebut hegemoni suara di wilayah Indonesia Timur yang selama ini menjadi lumbung suara partai-partai nasionalis atau lokal lainnya.
Dengan menjadikan Timor sebagai salah satu basis utama atau stronghold, PSI tidak hanya memperluas sebaran geografis suaranya, tetapi juga menciptakan efek psikologis nasional bahwa kekuatan politik baru mampu berakar secara mendalam di luar Pulau Jawa. Pulau Timor dengan tradisi komunalnya yang kuat diproyeksikan menjadi laboratorium dan jangkar teritorial baru bagi kekuatan “Gajah” (PSI) di kawasan Indonesia Timur.
Penobatan adat ini bekerja sebagai pembuka jalan yang ampuh untuk meruntuhkan hambatan psikologis pemilih, memberikan restu kultural bagi partai untuk membangun basis massa yang mengakar hingga tingkat desa. Alih-alih sekadar kunjungan seremonial, momentum di Kupang ini adalah cetak biru ekspansi politik jangka panjang—menjadikan daratan Timor sebagai salah satu benteng utama pertahanan elektoral nasional menyongsong Pemilu 2029.
Penobatan Joko Widodo sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor menegaskan bahwa pengaruh seorang pemimpin sejati tidak otomatis surut tatkala jabatan formalnya berakhir. Ketika kekuasaan dilepaskan dengan rekam jejak pengabdian yang dirasakan langsung oleh rakyat, ia bertransformasi menjadi wibawa moral dan ikatan batin.
Penobatan di Kupang bukan sekadar dari romantisme kepemimpinan masa lalu, melainkan sebuah manifesto politik masa depan. Peristiwa ini membuktikan bahwa dalam era demokrasi modern yang sering kali kehilangan ruh kebatinannya, politik yang bertahan dan disegani bukanlah politik yang lahir dari ketakutan di ruang-ruang ber-AC gedung parlemen, melainkan politik yang merunduk ke bumi, mendengar bisikan sejarah lokal, dan direstui oleh denyut nadi kebudayaan rakyatnya sendiri. Di tengah riuhnya ketakutan para elite politik, daratan Timor justru menjadi saksi bagaimana kultur, etika kerakyatan, dan strategi masa depan melebur dalam satu panggung: membuktikan bahwa kekuatan politik yang kokoh selalu lahir dan dirawat dari kedalaman hati rakyatnya.(*)




Comment