(Refleksi Hari Anak)
Catatan: Benediktus Kasman
Hari anak adalah kesempatan untuk bersyukur. Bersyukur karena ada banyak anak yang menikmati perhatian dan kasih sayang dari orang tua hingga berdikari. Dan hari ini juga adalah momen membangkitkan rasa keprihatinan karena tidak sedikit anak masih tak kesampaian merasakan kasih dan sayang sejak dalam kandungan dan masa kecil hingga mandiri.
Hari anak selain hari bahagia juga waktu khusus untuk memikirkan kembali sejauh mana keprihatinan atau kepedulian sosial akan masalah krisis kemanusiaan: anak yang digugurkan, anak yang dibuang, anak kelaparan, anak yang tidak bisa bersekolah, anak yatim-piatu, anak yang disewakan, anak yang diperdagangkan. Semua anak tersebut tidak bersalah. Mereka tak berdosa. Namun dirinya menderita lebih banyak.
Ketika anak-anak terkena aib tidak sebahagia seperti anak-anak lainya kita tak sabar memikirkan akar masalahnya. Tak lekas merespons dengan berpikir konseptual. Tentu saja bukan berarti gagasan yang rumit. Juga tak berarti berbicara dengan istilah akademik yang hanya dipahami segelintir kalangan terbatas. Namun, yang dimaksudkan adalah bangun kebiasaan berpikir serius dan berani menukik lebih dalam perihal apa akar masalah. Tak jemu mempertanyakan sesuatu yang dianggap normal. Dan berjuang tak lekas putus asa melihat hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya.
Harapan akan urgennya pemikiran konseptual gampang-gampang susah. Kecenderungan kita lebih mudah menilai ketimbang berpikir. “Berpikir itu sulit, itulah mengapa kebanyakan orang lebih suka menilai”, kata Carl Gustav Jung.
Ya, kita saat ini sedang hidup dalam suatu zaman yang tidak punya rasa sabar ketika ada masalah. Problem muncul diatasi dengan marah, komentar dan kecaman. Ruang publik dipenuhi kemarahan. Tapi kadang kita marah dalam keadaan minim refleksi.
Kita melontarkan kritik tak berhingga banyaknya tapi rasa-rasanya masih ada kekurangan gagasan. Kita memiliki amat banyak tuntutan tapi punya kekurangan akan imajinasi mengenai masa depan.
Lantas mengapa kita memikirkan anak-anak terutama yang kurang berbahagia atau menderita? Kita menaruh simpati yang mendalam terhadap anak-anak direfleksikan dari perspektif biblis. Tentang anak dalam Kitab Suci ditemukan dalam Mazmur 127:3, anak adalah anugerah, warisan berharga dari Tuhan, dan penerus keturunan.
Mateus 19 :14, Yesus menempatkan anak sebagai teladan iman, karena kepolosan, kerendahan hati. Dia menjadikan anak sebagai simbol manusia yang pantas masuk kerajaan Allah karena hati murni, jujur, tanpa kepalsuan ada pada mereka. Anak sebagai pusaka dan berkat, titipan, bukan hak milik mutlak dan standar kerendahan hati. Tanggung jawab orang tua untuk mendidik dikemukakan dalam kitab Ulangan 6:6-7. Rasul Paulus menulis: “janganlah kamu sesat, pergaulan yang buruk merusakan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33).
Mother Teresa dari Kalkuta mendoakan anak-anak bermasalah: “Bapa, Engkau telah berfirman…’Sekalipun seorang ibu dapat melupakan anaknya, Aku tidak akan melupakanmu’…Bantulah kami untuk mengingat bayi yang belum lahir, anak yatim-piatu, anak-anak yang hidup dalam perang atau kemiskinan atau penyandang disabilitas…” (*)




Comment