BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
BUDAYA
Home » Blog » Menyinari Zaman Lewat Teladan Iman: Perayaan Hari Raya Sta Ana dan St. Yoakim TPAPT HABIKEWA di Wairita

Menyinari Zaman Lewat Teladan Iman: Perayaan Hari Raya Sta Ana dan St. Yoakim TPAPT HABIKEWA di Wairita

Ketua TPAPT HABIKEWA, Lusia Edan Dua Kleruk

Di balik keheningan perbukitan Wairita, Kabupaten Sikka, derap langkah kaki beriring ritme tabuhan gong waning menggema megah. Ratusan umat yang tergabung dalam Kongregasi Santa Ana dan Santo Yoakim berjalan dalam perarakan khidmat dari Markas Brimob Wairita menuju Gereja Santo Arnoldus Yansen Paroki Wairita.

Hari itu, Senin, 26 Juli, bukan sekadar tanggal biasa dalam kalender liturgi Katolik. Di bawah naungan Tim Pastoral Antar Paroki Tetangga (TPAPT) HABIKEWA—yang merangkum lima paroki: Habi, Bolawolon, Illi, Kewapante, dan Wairita—umat berkumpul dalam balutan busana adat untuk merayakan Hari Raya Santa Ana dan Santo Yoakim, orang tua Santa Perawan Maria sekaligus kakek-nenek Yesus Kristus.

Meskipun kisah hidup mereka tidak tercatat dalam sejarah kanonik dan bersumber dari tradisi apokrif kuno seperti Injil Yakobus, warisan keteladanan Santa Ana dan Santo Yoakim tetap hidup dan bernyawa, menyala terang di bumi Nusa Nipa.

Misa Konselebrasi dan Pesan Sang Moderator

Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin oleh 9 orang imam dan 1 orang diakon, menjadi simbol kuat persekutuan umat lintas paroki di wilayah Keuskupan Maumere ini.

Jokowi, Legitimasi Kultural Raja Timor dan Manifesto Politik Masa Depan

Dalam sambutannya, Pastor Moderator TPAPT HABIKEWA, RD. Polson Sola—yang akrab disapa Romo Poli—mengingatkan kembali akar historis dan rohani dari perhimpunan tersebut.

“Dari semua organisasi, kongregasi Santa Ana adalah akar atau induk dari semua organisasi rohani. Orang tua yang sudah mapan menjadi teladan dan contoh iman yang nyata dalam keluarga,” ungkap Romo Poli di hadapan ratusan umat yang memadati gereja.

Pernyataan ini menegaskan bahwa nama-nama besar seperti Santa Ana, Santo Yoakim, Santa Maria, dan Santo Yoseph bukan sekadar label kongregasi atau nama paroki semata, melainkan fondasi Keluarga Kudus yang menghadirkan teladan kasih Allah di tengah dunia.

Tiga Pilar Teladan Keluarga Katolik

Senada dengan sang moderator, Ketua TPAPT HABIKEWA, Lusia Edna Dua Kelruk, dalam sambutannya menegaskan bahwa perayaan yang jatuh setiap tanggal 26 Juli ini memiliki makna yang jauh melampaui rutinitas seremonial tahunan.

Menakar Substansi di Balik Retorika “Buta Kenop”

“Perayaan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan untuk mempererat tali persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta memperbaharui komitmen pelayanan kita di tengah Gereja dan masyarakat,” ujar Lusia.

Lebih lanjut, ia memaparkan tiga teladan utama dari pasangan saleh abad ke-1 SM—yang dahulu sempat bergulat dalam kepedihan karena kemandulan sebelum akhirnya dianugerahi Maria—untuk diterapkan oleh setiap keluarga Katolik modern:

  1. Kesabaran dan Ketekunan Berdoa: Mengajarkan ketangguhan untuk tidak menyerah dalam iman, terus berseru kepada Tuhan meskipun harus menghadapi masa-masa sulit dan penantian panjang.
  2. Ketaatan dan Kesetiaan: Mengajarkan hidup rukun, taat beribadah, serta setia menjaga kekudusan rumah tangga hingga usia senja.
  3. Pendidik Iman yang Ulung: Keberhasilan Santa Ana dan Santo Yoakim mendidik Bunda Maria menjadi pribadi penuh rahmat, yang kini menjadi Kompas dan teladan kontekstual dalam menghadapi tantangan zaman.

Gotong Royong dan Semangat Swadaya Murni

Ada catatan istimewa di balik kemeriahan perayaan TPAPT HABIKEWA tahun ini. Seluruh rangkaian acara terselenggara berkat swadaya murni dari pengurus dan 350 anggota konggregasi se-TPAPT HABIKEWA, dengan total dana terkumpul sebesar Rp 8.750.000.

Dana tersebut dikelola bersama di luar biaya akomodasi dan transportasi, yang ditanggung secara mandiri dan gotong royong oleh setiap kelompok kongregasi di masing-masing paroki.

Dongeng Kakek-Nenek: “Ikan Kering Tetawa”

Perayaan Hari Raya Santa Ana dan Santo Yoakim di Wairita pun ditutup dengan sukacita persaudaraan. Di tengah gempuran modernitas, 350 anggota kongregasi ini membuktikan bahwa warisan doa, kesetiaan, dan semangat kekeluargaan dari kakek-nenek Sang Penebas dunia tetap kokoh hidup, berakar, dan berbuah lebat di tanah Keuskupan Maumere.(*)

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement