Catatan: Yosef Sumanto
Jumat siang itu, 29 Mei 2026, udara di Wairpelit, terasa cukup sejuk untuk ukuran dataran Flores yang biasanya meranggas dipanggang matahari. Mesin Jupiter MX akhirnya diredam tepat di depan depot galon Aqua Kita.
Di sana, di koridor samping depot yang tenang, waktu seolah melambat. Ditemani kepulan uap dari secangkir kopi hitam, Mo’at Kamilus Delelis duduk menyandarkan punggungnya. Dari obrolan ringan tentang riuh rendahnya kehidupan modern, pembicaraan siang itu perlahan berbelok, menuntun kami bertualang menembus kabut masa lalu—menuju sebuah bukit yang namanya telah melegenda di seantero jagat: Ledalero.
Bagi dunia internasional, khususnya umat Katolik, menyebut nama Ledalero akan langsung mengasosiasikan pikiran pada bukit suci. Di atas punggung bukit bersandar matahari itu, berdiri Seminari Tinggi St. Paulus sejak 20 Mei 1937. Ia adalah “rahim” subur yang telah melahirkan ribuan imam misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) dan kaum awam yang berdiaspora ke berbagai belahan bumi, membawa misi perdamaian dan kemanusiaan.
Namun, di balik jubah putih para pastor dan megahnya bangunan seminari, tanah Ledalero menyimpan sebuah memori purba yang kelam, sebuah rahasia yang nyaris terkubur oleh zaman jika saja orang-orang seperti Mo’at Kamilus tidak merawat ingatan tersebut.
Eksotisme Masa Lalu: Ketika Alam Menjadi Penunjuk Jalan
Jauh sebelum lonceng seminari bergema membelah sunyi, bukit kecil itu adalah sebuah lanskap hijau yang perawan. Masyarakat adat Wairpelit Desa Ribang Kecamatan Koting Sikka Flores NTT tempo dulu mengenalnya dengan nama Koja Lewang Wolon. Sebuah nama yang lahir dari keintiman manusia purba dengan alamnya.
Secara etimologis, Koja berarti pohon kemiri. Wilayah itu dinamai demikian karena tumbuh sebatang pohon kemiri raksasa yang hidup di dasar lembah, namun tajuk jalangnya tumbuh menjulang tinggi melampaui puncak bukit (lewang wolon). Koja Lewang Wolon adalah navigasi visual purba. Ia menjadi penanda ruang bagi para pelintas alam yang hendak mengukur jarak atau sekadar mencari arah di bumi Sikka. Nama itu adalah simbol kedamaian ego-ekologis manusia dan vegetasi.
Namun, kedamaian hijau itu runtuh ketika sebuah tragedi kemanusiaan menorehkan tinta darah di sana.
Tragedi Du’a Lero: Sebuah Transformasi Ruang yang Berdarah
Sejarah lisan yang dituturkan Mo’at Kamilus mengisahkan sebuah peristiwa kelam di masa tempoe doloe. Seorang perempuan bernama Du’a Lero tewas dibunuh secara tragis dalam sebuah konflik yang motifnya telah samar ditelan waktu.
Keberadaban masa itu menuntut sebuah pesan visual yang mengerikan. Jasad Du’a Lero tidak dikuburkan di dalam rahim bumi, melainkan diangkat dan diletakkan di atas tajuk pohon. Dalam bahasa lokal Sikka, tindakan menyangkutkan atau meletakkan jenazah di atas pohon ini disebut Leda e ai reta wutu.
Sejak peristiwa horor itu terjadi, asosiasi masyarakat terhadap Koja Lewang Wolon berubah total. Ketakutan, rasa hormat, dan memori akan kematian Du’a Lero perlahan-lahan mengikis nama pohon kemiri itu dari percakapan sehari-hari. Ruang tersebut mengalami pergeseran toponimi. Frasa Leda (meletakkan) dan nama korban Lero menyublim menjadi satu kata yang lekat hingga hari ini: Ledalero. Bukit itu bukan lagi bukit kemiri, melainkan “Bukit Tempat Du’a Lero Disangkutkan”.
Paradoks Spasial: Dari Pohon Kematian Menjadi Bengkel Kehidupan
Salah satu bagian paling memikat dari penuturan Mo’at Kamilus—yang juga merupakan pemilik sebagian tanah di kawasan tersebut—adalah fakta mengenai titik spesifik lokasi pembunuhan itu sekarang. Pohon purba tempat jasad Du’a Lero pernah membusuk dan menyatu dengan angin, kini telah tiada. Di atas tanah berdarah itu, kini berdiri Bengkel Kayu Ledalero.
Tempat yang dulunya memegang memori tentang “kayu/pohon yang menopang kematian”, kini bertransformasi menjadi tempat di mana kayu diolah oleh tangan-tangan manusia untuk menciptakan peradaban—menjadi meja belajar para frater, almari, hingga salib dan altar suci. Kematian telah digantikan oleh kreasi; trauma masa lalu telah ditebus oleh produktivitas masa kini.
Hubungan Teologis: Rahim Iman yang Lahir dari Tanah yang Terluka
Ada kontras puitis sekaligus teologis yang sangat dalam ketika kita merefleksikan sejarah Ledalero. Bukit yang namanya dipahat dari kisah hilangnya nyawa seorang manusia, kini justru menjadi tempat utama di mana “kehidupan rohani” diproduksi dan diwartakan ke seluruh dunia.
Bagi institusi Seminari Tinggi St. Paulus, narasi lokal ini tidak sedikit pun mendegradasi kesucian tempat tersebut. Sebaliknya, kisah ini memberikan kedalaman makna yang baru. Seolah-olah, pendirian seminari pada tahun 1937 adalah sebuah proses “pembaptisan” atas tanah yang pernah ternoda oleh kekerasan. Di atas bukit yang menyimpan luka sejarah Du’a Lero, Tuhan justru membangun sebuah menara suar yang memancarkan terang iman Katolik ke seantero jagat.
Secangkir Kopi Penyelamat Ingatan
Siang itu, di samping depot galon Aqua Kita, obrolan bersama Mo’at Kamilus Delelis akhirnya usai seiring mengeringnya ampas kopi di dasar cangkir. Namun, kisah yang ditinggalkannya melayang-layang di udara Wairpelit, menolak untuk dilupakan.
Mo’at Kamilus adalah seorang gatekeeper—penjaga gerbang memori kolektif Sikka. Di tengah derasnya modernisasi dan globalisasi nama Ledalero sebagai pusat intelektual dan teologis, kisah mikro tentang Du’a Lero dan pohon kemiri Koja Lewang Wolon adalah pengingat penting: bahwa di bawah fondasi megah setiap peradaban besar, selalu ada jejak kaki masyarakat adat, keringat, dan darah masa lalu yang membentuk tanah tempat kita berpijak hari ini.
Kini, setiap kali mata memandang ke arah bukit Ledalero, tempat bersandar mesranya matahari, kita tidak hanya melihat sebuah pusat pemikiran religius yang mendunia, tetapi kita juga melihat sebuah monumen abadi bagi sebuah nama yang pernah singgah di dahan pohon: Du’a Lero. (*)




Comment