Catatan: Benediktus Kasman
“Zelo Zelatus sum pro Domino Deo exercituum” (1Raj, 19:10)
Kutipan kata-kata Nabi Elia yang ditulis pada prasasti berbahasa Latin diambil dari Kitab Pertama Raja-Raja bab 19 ayat 10 berarti: “Aku telah bekerja dengan penuh semangat bagi Tuhan Alam Semesta.” Ia telah menghabisi ratusan nabi-nabi Baal Israel yang membangkang terhadap Allah. Namun, setelah itu ia mendapat ancaman pembunuhan sebagai balasan atas aksinya oleh Ratu Izebel. Mendengar hal ini, ia menjadi takut dan putus asa.
Menghadapi keadaan itu ia mengasingkan diri ke Gunung Horeb. Ia mendengarkan pembicaraan Tuhan. Juga Ia mengadu kepada Allah bahwa dirinya menjadi satu-satunya nabi tersisa di Israel yang masih setia. Bangsa Israel telah memusuhi Allah dan ia pun menjadi musuh yang mesti dihabisi. Ketika mengandalkan Tuhan maka para musuh pun terpukul mundur.
Narasi biblis tentang peristiwa pengalaman religius nabi Elia dalam Kitab Suci Perjalanan Lama dihadirkan di Taman Doa Karmel. Selain itu, cerita perjalanan hidup Yesus dalam Perjanjian Baru dan penampakan Bunda Maria serta rumah abadi bagi orang mati yang dinamakan kolumbarium pun ditemukan disini. Kolumbarium adalah Rumah Abu untuk umat dan bagi biarawan Karmel. Abu jenazah setelah dikremasi atau pembakaran atau tulang disimpan pada kotak khusus. Dalam rumah abu terdapat Patung Bunda Perawan Maria. Sebuah patung dibuat dari pahatan batu hijau utuh. Berat patung ini lebih dari 1 (satu) ton. Patung yang satu ini didatangkan dari negara Cina alias negeri Tirai Bambu.
Taman doa bagaikan firdaus yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat mencari misteri Tuhan lebih dalam. Suasananya yang sunyi membangkitkan keinginan berdoa. Taman doa ini membantu siapa saja menemukan Tuhan. Doa bukan pertunjukan vokal melainkan menyelami Tuhan berbicara dalam keheningan hati.
Niscaya pengalaman doa dari peziarah bervariasi. Barangkali kita selama ini hanya berdoa tanpa henti (Telsalonika 5:17). Akan tetapi selama berada di taman doa ini rasa-rasanya berbeda. Pengalaman pertemuan dengan Tuhan di lokasi ziarah Paranti Jati ini tak mudah dikisahkan. Tapi, untuk merumuskan perihal apa makna doa di firdaus ini mungkin lebih pas kita menggunakan pengalaman Kahlil Gibran tentang doa yang ditulisnya: “Doa adalah nyanyian hati. Ia sampai ke telinga Tuhan meskipun bercampur dengan tangisan dan hiruk pikuk seribu orang.”
Disinilah ruang terbuka bagi peziarah untuk berbicara dengan Tuhan tentang hal-hal sehari-hari dalam hidup. Bercakap-cakap dengan Tuhan ketika gembira, tatkala terbebani oleh kesedihan, manakala tertekan oleh beratnya perjuangan yang dialami.
Ada banyak pilihan untuk berdoa atau devosi pribadi dan bersama: di Santa Perawan Maria menerima khabar dari malaikat Tuhan bernama Gabriel bahwa ia mengandung dari Roh Kudus, Gua Keluarga Kudus Nazaret, Gua Patung Penampakan Bunda Maria di Lourdes, Patung Maria diangkat ke Surga,
Pieta Yesus dalam pelukan Bunda Maria usai penyaliban (yang dalam sejarahnya dibuat seniman Michelangelo di basilika Roma-Italia), Patung Keluarga Kudus dari Nazaret (Bapa Yusuf, Bunda Maria dan Yesus), Patung berjejer dua belas murid Yesus.
Atau bisa berdoa di pelataran Patung Yesus Kristus dengan tinggi sekitar 10 meter berdiri kokoh dalam posisi tangan terentang ke kanan seolah menyambut suka-duka hidup Bunda Maria dan tangan terentang ke kiri menerima kedatangan umat manusia beriman. Dan disiapkan juga lokasi untuk merenungkan peristiwa jalan salib mulai dari perhentian pertama hingga berakhir pada situs devosi makam Kebangkitan Kristus sebagai peristiwa kemenangan atas salib.
Ada sesuatu yang menarik perhatian bahwa dari situs jalan salib pada setiap perhentian ditulis dalam bahasa berbeda-beda, yaitu bahasa Latin, Aram, Yunani, Indonesia, Inggris, Italia, Mandarin, Madura, Bali, Jawa, Riung Ngada, dan Manado.
Taman Doa Karmel berada di Jalan Raya Pandanlandung, No.48A, Kunci, Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 65158.
Aku hening merenung sejenak di taman doa dan kemudian aku menyadari bahwa diriku tak berdaya. Oleh karena itu aku pun menemukan: “Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan”-Aristoteles. (*)




Comment