BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
BUDAYA
Home » Blog » Saudara di Akhir Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Saudara di Akhir Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kisah Cinta berakhir sebagai saudara

Oleh : Yosef Sumanto

Di bawah langit Kampung Selodue yang riuh oleh dentuman gong dan sorak-sorai pesta adat, Nong Mitan berdiri terpaku. Di antara kerumunan tamu yang sibuk menari dan berbincang, matanya hanya terpaku pada satu arah: Heretinang.

Heretinang ata Natar Guru: Rutun wawa guru, rutun lopa gukun gagat. Ata uman tu’an tua temak, Lepo gete dan gahar, ata lepo menun balik

Heretinang nimu rutun wawa guru, rutun ele gukun gagat. Ata uman tu’an tua temak, Lepo gete dan gahar, ata lepo menun balik. Kenang A’u lepo nukak noeng balik.

Heretinang itu tampak anggun, memancarkan aura keluarga terpandang yang sulit dijangkau. Bagi Nong Mitan, yang hanya datang dari keluarga sederhana, Heretinang adalah rembulan yang tampak dekat namun mustahil untuk digenggam.

Namun, di tanah Sikka Krowe, perasaan tidak pernah dibiarkan menggantung tanpa bahasa. Ketika keberanian akhirnya mengalahkan rasa rendah dirinya, Nong Mitan menghampiri Heretinang. Di tengah keramaian pesta, mereka terjebak dalam ruang sunyi yang hanya dimengerti oleh hati yang sedang patah—sebuah ruang yang diikat oleh tradisi lisan eban bunga.

Berikut adalah dialog eban bunga yang merekam percakapan mereka, di mana setiap kata memiliki bobot adat dan harga diri:

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Nong Mitan:

Heretinang leko le nanga lekon, au leko kenang da’a. Ami lepo nukak noeng balik.

(Tidaklah salah jika engkau menghindar dariku, Heretinang. Sebab aku tahu diri; aku hanyalah pemuda dari keluarga kecil yang sederhana.)

Heretinang:

A’u Heretinang ele meten meret. A’u lusi ele hulir, eba renda ele hala.

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

(Aku, Heretinang, bukanlah gadis yang mudah cemburu. Jika aku sudah menetapkan pilihan cinta, pilihanku pasti tepat dan tidak akan meleset.)

Nong Mitan:

A’u lesu mitan sora sareng, lamen plesung lo’a laen, ko sareng au naha ata natar blawir.

(Aku adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Aku masih lajang, dan kupikir cintaku ini seharusnya berlabuh pada gadis dari kampung yang jauh.)

Heretinang:

Pemimpin

Nong Mitan jarang bla’an, lako kantor bendar Alok, me’ang geba wawa bendar. A’u sir ko poi au hulir halan gawan.

(Wahai Nong Mitan, kamu pemuda baik saya suka, hanya engkau terlalu banyak membuat malu karena kesalahan-kesalahan yang telah engkau perbuat.)

Nong Mitan:

Ami ata la’i hulir ba’a nora hala. Meang geba wawa bendar. Ata bi’an mi’ak lora dosa. Hai ata meluk ganu anjo bekang kepik ami gita.

(Sebagai laki-laki, aku memang tidak luput dari khilaf dan kesalahan yang kerap mempermalukan diri sendiri maupun orang lain. Namun tunjukkan kepadaku, siapakah di dunia ini laki-laki yang suci tanpa noda seperti malaikat?)

Heretinang:

A’u ele ane bue po’ing pare ane, a’u ele rang rasak ganu rata dena unen.

(Semua kesalahan itu adalah urusanmu sendiri, aku tidak ingin ikut campur di dalamnya.)

Nong Mitan:

Ra’ik ganu ian, ita e lepo uneng woga wutun, sareng ganu nara nora wine.

(Jika memang demikian takdirnya, mari kita bina hubungan kekeluargaan ini. Kita bisa menjadi saudara dekat, bagai kakak dan adik.)

Heretinang:

A’u noeng naran tena nara a’un, au noeng winen dena wine aun.

(Aku bersedia menjadi saudarimu, dan engkau menjadi saudaraku.)

Nong Mitan:

A’u ruha uta taran krus, berat ele selung palik, a’u ganu manu horo mai lako au.

(Aku adalah orang baik yang akan memegang teguh tanggung jawab sebagai saudara. Aku akan selalu datang untuk berkunjung dan menjagamu.)

Heretinang:

Epan gawan nara.

(Terima kasih, saudaraku.)

Nong Mitan:

Hama-hama du’a wine.

(Sama-sama, saudariku.)

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement