Catatan: Yosef Sumanto
Pagi itu, Jupiter MX bukan sekadar mesin yang menderu membelah jalanan Desa Habi. Ia adalah mesin waktu. Ketika ban sepeda motor berhenti di pelataran Gereja Habi, riuh bunyi palu dan pahat Mo’at Kani bersama kawan-kawannya yang sedang merenovasi dinding gereja, seolah menjadi musik latar yang mengantar saya memasuki sebuah ruang transisi.
Sejarah sering kali tidak bersemayam di altar-altar megah; ia kerap bersembunyi di tempat paling sederhana. Di sebuah kios kecil, di balik kepulan asap sebatang rokok yang terselib disela jemariku, Bapak Don Bosko Paseng membuka gerbang ingatan itu. Beliau bukan sekadar pemilik kios; beliau adalah penjaga gerbang waktu, seorang Ketua Lembaga Adat Desa Habi Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka NTT, yang menyimpan kunci-kunci narasi masa lalu yang nyaris karam dalam arus modernitas.
Wolon Jarang dan Aliansi Kosmis 1904
Ketika Om Paseng menyebut Habi Natar Gut—kampung lama yang ditinggalkan—ruang obrolan kami mendadak berubah menjadi palagan tahun 1904. Kami tidak lagi membicarakan letak geografis, melainkan sebuah benteng eksistensial bernama Wolon Jarang.
Bukit itu, yang lekuknya menyerupai punggung kuda, adalah saksi bisu ketika darah membasahi tanah Hoak Hewer Wetakara (federasi adat dibawah otoritas Kerajaan Kangae). Di sana, kolonial Belanda dengan senapan modernnya mendapati diri mereka tak berdaya. Bukan karena pejuang di Wolon Jarang memiliki senjata yang setara, melainkan karena mereka memiliki sekutu yang tak kasat mata: alam itu sendiri.
Wolon Jarang melakukan perlawanan secara asimetris melalui ilusi ruang. Bukit itu seolah memanjang, meninggi, dan bergeser di mata pasukan kompeni, menyesatkan langkah-langkah serakah yang mencoba menjajahnya. Dalam kosmologi masyarakat lokal, ini adalah bukti nyata bahwa tanah tidak pernah diam ketika tubuh anak-anaknya diancam. Alam menolak diinjak, dan ia bermutasi menjadi labirin mematikan bagi musuh.
Semiotika Pohon Habi dan Maklumat Kedaulatan
Bagaimana sebuah bukit perang berubah menjadi Habigahar? Di sinilah transformasi identitas itu mengakar. Di atas punggung bukit Wolon Jarang, tumbuh rimbun pohon-pohon Habi (Kesambi). Pohon dengan karakter kayu yang keras, berakar dalam, dan berdaun rapat. Masyarakat melihat diri mereka dalam karakter pohon tersebut: keras dalam prinsip, tak mudah tumbang oleh badai zaman.
Maka lahirlah tuturan adat yang magis:
“Habigahar, gahar reta, lema reta, da’a reta lero Wulan.”
Ini bukan sekadar puisi pengantar tidur. Ini adalah sebuah deklarasi kedaulatan politik dan spiritual. Ketika mereka mengatakan kampung ini tinggi (gahar) menjulang hingga menyentuh Matahari dan Bulan (Lero Wulan sebagai personifikasi Sang Pencipta), mereka sedang mengirim pesan kepada dunia: “Kampung ini hanya tunduk pada Tuhan, dan posisinya terlalu tinggi untuk dijangkau oleh kaki para penjajah.”
Transisi dari Peluru Menuju Peradaban
Migrasi manusia dari Hubin, melewati masa-masa berdarah di Wolon Jarang, hingga akhirnya menetap di Habigahar adalah sebuah kemenangan sosiologis. Ini adalah kisah tentang sebuah komunitas yang berhasil menyembuhkan trauma perang (post-war trauma) dan mengubahnya menjadi energi kreatif untuk membangun peradaban menetap.
Mereka tidak meninggalkan Wolon Jarang begitu saja. Mereka membawa “api” dari bukit itu—memori tentang menjadi manusia yang tidak mudah ditaklukkan—lalu menanamkannya di tanah pemukiman yang baru. Habigahar didirikan bukan di atas fondasi ketakutan, melainkan di atas fondasi ketangguhan yang telah diuji oleh peluru kompeni tahun 1904.
Monumen yang Bernapas
Di akhir obrolan, saat matahari mulai bergeser ke atas kepala di Desa Habi, saya menyadari satu hal. Bangsa lain mungkin membutuhkan patung perunggu atau monumen batu untuk mengingat pahlawan mereka. Namun orang Habigahar memilih cara yang lebih abadi: mereka mengenakan sejarah itu sebagai nama kampung mereka.
Setiap kali anak-anak muda Habigahar menyebut alamat rumah mereka, setiap kali mereka menuliskan nama kampung mereka, mereka sedang merawat sebuah monumen hidup. Habigahar adalah bukti bahwa kedamaian yang mereka nikmati hari ini di bawah naungan pohon kesambi, dibeli dengan harga diri yang mahal di punggung Wolon Jarang. Sebuah perang yang terlupakan oleh tinta sejarah nasional, namun abadi dalam tutur di kios-kios desa.(*)




Comment