Di balik rimbunnya perbukitan Desa Sika, Kecamatan Lela, terdapat sebuah bangunan sederhana yang menjadi pelabuhan mimpi bagi anak-anak pedalaman: SDK Wukur.
Di sanalah, selama sebelas tahun terakhir, Yustina Yuliarti menghabiskan hari-harinya. Sebagai seorang guru honorer, ia bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga nyala api pendidikan yang hampir redup di tengah keterbatasan.
Setiap bulan, Yustina menerima upah sebesar Rp150.000. Sebuah angka yang jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa sekarang. Namun, bagi alumni PGSD Universitas Terbuka ini, angka tersebut tidak pernah menjadi ukuran pengabdiannya. Meski upahnya kecil, semangatnya untuk mendidik anak-anak kelas 5 tetap membara, seolah-olah ia sedang menanam benih masa depan yang tak ternilai harganya.
Kesetiaan tanpa pamrih ini akhirnya sampai ke telinga Yoseph Karmianto Eri, atau yang akrab disapa Pak Manto Eri, Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Sikka. Tersentuh oleh dedikasi yang begitu murni, Pak Manto memutuskan untuk memberikan apresiasi nyata.
Pertemuan tak terduga itu menjadi momen yang mengharukan bagi Yustina. Ia tak pernah menyangka bahwa langkah kecilnya di sekolah pedalaman akan diperhatikan oleh seorang wakil rakyat. Sebagai bentuk penghargaan, Fraksi PKB Sikka memberikan bantuan dana sebesar Rp350.000 setiap bulan selama satu tahun penuh, yang direncanakan akan dimulai pada Juni 2026.
“Syukur kepada Tuhan dan epan gawan (terima kasih banyak) untuk Pak Manto Eri,” ucap Yustina dengan nada bergetar. Baginya, bantuan ini adalah bentuk penyelenggaraan Tuhan yang hadir melalui tangan orang lain.
Ia merasa terharu, apalagi ia baru mengenal sosok Pak Manto Eri saat pertemuan tersebut. Ternyata beliau berasal dari Pulau Palu’e, sebuah pulau kecil di sebelah Barat Laut Kabupaten Sikka. Tidak ada hubungan kekerabatan, namun kepedulian dan kebaikan hati Pak Manto Eri, seolah meruntuhkan sekat tersebut.

Namun, di tengah kebahagiaannya, hati Yustina tetap tertinggal di ruang-ruang kelas SDK Wukur. Ia tak ingin berjalan sendiri. Dengan tulus, ia menitipkan harapan agar enam rekan guru honorer lainnya di sekolah tersebut juga mendapatkan perhatian serupa.
Tak hanya itu, ia berharap perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sikka untuk kelengkapan fasilitas belajar mengajar di SDK Wukur dan akses jalan dari Kampung Sika menuju kampung Wukur diperbaiki.
“Dengan fasilitas pedagogi yang memadai, anak-anak SDK Wukur bisa belajar dan tumbuh kembang dengan baik. Sementara jalan kalau diperbaiki, maka akan memudahkan akses dari dan ke Kampung Wukur, kita tidak perlu jalan kaki berkilo-kilo lagi’, imbuhnya.
Kisah Yustina Yuliarti adalah pengingat bagi kita semua bahwa di sudut-sudut tersepi negeri ini, masih ada jiwa-jiwa hebat yang bekerja dalam senyap, demi memastikan literasi tetap hidup, meski hanya berbekal ketulusan dan doa. (Yosef Sumanto)




Comment