BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
BUDAYA
Home » Blog » Di Ujung Pesa ada Habi Teong Wa’in

Di Ujung Pesa ada Habi Teong Wa’in

Catatan: Yosef Sumanto

Bagi orang bijak, nama bukan sekadar rentetan huruf tanpa makna. Nama adalah tanda, sebuah representasi agung dari identitas dan memori yang melekat pada tanah. Di hamparan wilayah Habi-Langir, terdapat tiga titik geografi yang berbagi rahim nama yang sama: Habi. Ada Habigahar, Habibuang, dan Habi Teong Wa’in.

Ketiganya bukan sekadar nama di peta, melainkan monumen hidup dan palagan berdarah yang menjadi saksi bisu berkecamuknya perang besar pada tahun 1904. Jika Habigahar adalah sebuah ilusi ruang tentang peradaban yang menetap—seperti ungkapan Habigahar, gahar reta lema reta da’a reta lero wulan, Habigahar, tinggi menjulang menyentuh matahari dan bulan—maka dua tempat lainnya menyimpan kisah yang jauh lebih pekat, kelam, sekaligus heroik.

Sabtu pagi yang cerah pada 23 Mei 2026, deru mesin Jupiter MX membelah keheningan jalanan menuju Polindes Langir di Kampung Wetak. Ketika ban motor berhenti tepat di pelataran rumah bersalin itu, sebuah kontras yang ganjil langsung terasa. Jika biasanya polindes menjadi tempat pertaruhan hidup dan mati untuk melahirkan raga manusia baru, hari itu ia bertransformasi menjadi ruang kultural. Polindes itu menjadi tempat melahirkan kembali ingatan sejarah yang nyaris punah.

Perjalanan pagi itu adalah sebuah misi penyelamatan. Sebuah upaya menjemput kisah purba yang telah lama dikandung dalam rahim memori kolektif warga Habi-Langir. Ada keyakinan yang menghentak dada: jika fragmen sejarah ini tidak dilahirkan dalam bentuk tutur lisan hari itu, ia akan terkubur selamanya—hanya menjadi milik para tetua—para sepuh pewaris tutur lisan yang selama ini setia menjaga amanah sejarah.

Suasana di sekitar Polindes begitu hening, sepi dari hiruk-pikuk pelayanan kesehatan. Semilir angin yang sejuk seolah menjadi penuntun langkah kaki menuju sebuah rimbunan pohon di belakang bangunan. Di sana, telah duduk menanti Bapak Wodon Sere, seorang tokoh masyarakat Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT. Beliau adalah salah satu penjaga gerbang ingatan masa lalu yang siap membagikan kepingan narasi besar yang lama tersembunyi.

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Berdasarkan kesaksian lisan Bapak Wodon Sere, geografi wilayah di dekat Wolon Jarang—sebuah koridor pembatas alamiah di sebelah atas Pesa Du’e—menyimpan sebuah titik episentrum pertahanan yang dinamakan Habi Teong Wa’in. Secara etnolinguistik lokal, nama ini merujuk pada pohon kesambi (habi) tempat digantungnya (teong) pangkal paha atau kaki (wa’in).

Toponimi yang sarat akan teror psikologis ini bukanlah lahir dari kebiadaban tanpa nalar, melainkan sebuah strategi perang urat syaraf (psychological warfare) yang diadopsi oleh para pejuang lokal. Kala itu, dalam kecamuk perang melawan penetrasi kolonial, para pejuang memotong dan memajang pangkal paha prajurit musuh yang tewas di dahan pohon kesambi.

Secara taktis, struktur visual yang mengerikan ini difungsikan sebagai perimeter pertahanan visual. Tujuannya gamblang: meruntuhkan nyali sisa-sisa pasukan benteng Belanda dan sekutunya sebelum mereka sempat menginjakkan kaki lebih jauh ke dalam wilayah Habi-Langir.

Kedalaman memori kolektif yang mencekam sekaligus heroik ini kian dipertegas oleh keberadaan wilayah bernama Habibuang. Berakar dari kata habi (pohon kesambi) dan buang (ditelantarkan), istilah ini menandai realitas kelam di mana lembah tersebut diubah menjadi kuburan massal terbuka (open-air mass grave) bagi pasukan dinas kolonial yang gugur.

Strategi membiarkan jasad musuh membusuk di bawah rindangan pohon kesambi sengaja dilakukan untuk menghancurkan moral dan superioritas militer modern Eropa. Ketika serdadu kolonial dan milisi lokal mencoba merangsek masuk, yang mereka hadapi bukan sekadar perlawanan fisik dari penduduk setempat yang berpakaian kain tenun, melainkan sebuah lanskap kematian: keheningan alam yang mencekam dan bau busuk kegagalan para pendahulu mereka.

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

Namun, narasi perjuangan masyarakat Habi-Langir waktu itu tidak hanya ditulis dengan darah dan teror, melainkan juga dengan kecerdasan diplomasi dan pengorbanan yang luhur. Di sisi lain koridor pertahanan tersebut, Pesa Du’e berdiri teguh sebagai monumen hidup yang menandai kedaulatan taktis masyarakat adat. Tempat ini mengabadikan sebuah situs pertahanan tempat meriam pertahanan disiagakan.

Menariknya, meriam tersebut diperoleh melalui barter multidimensional yang sangat berat: melibatkan penyerahan dua orang gadis pilihan komunitas dan konsensus komoditas pangan berupa kacang hijau. Transaksi ini menjadi simbol pengorbanan sosial dan ekonomi tingkat tertinggi; sebuah pembuktian bahwa demi tegaknya harkat tanah leluhur, harga yang teramat mahal pun bersedia dibayar oleh kolektif.

Ketika meriam di Pesa Du’e tersebut akhirnya menyalak dan menundukkan kepongahan artileri kolonial, tempat ini bertransformasi menjadi ruang sakral. Di titik itulah hukum adat, lobi diplomasi lokal, pengorbanan personal, dan perlawanan fisik melebur menjadi satu batu penjuru dalam ingatan kolektif warga yang abadi.(*)

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement