BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
BUDAYA
Home » Blog » Dari Habiwetak, Langir Menggema dalam Simfoni Desa Gaya Baru

Dari Habiwetak, Langir Menggema dalam Simfoni Desa Gaya Baru

Kantor Desa Langir Kecamatan Kangae

Catatan : Yosef Sumanto

Di tanah Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, sejarah tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga berdenyut dalam nadi vegetasi.

Beberapa nama wilayah di sana merupakan memoar botani—sebuah penghormatan terhadap flora yang pernah mendominasi lanskapnya. Sebut saja Habi, sebuah nama yang merawat ingatan tentang pohon Kesambi yang dahulu tumbuh subur, menaungi tanah dengan kekokohannya.

Tak jauh dari sana, di ufuk barat Kangae, nama Langir bergema dengan martabat yang sama. Nama ini bukanlah sekadar identitas administratif, melainkan rujukan pada sebatang pohon tropis yang pernah berdiri megah di wilayah Habiwetak—tepatnya di antar perbukitan di atas Gereja Habi, dan di bawah kediaman Bapak Moa Golo.

Dalam ingatan kolektif warga yang saya jumpai, Bapak Eleseus Eli dan orang muda Paulus de Cruce, di Habiwetak, Langir bukan sekadar pohon; ia adalah saksi bisu peradaban. Pohon itu digambarkan memiliki tajuk yang begitu rimbun dan teduh, menjadikannya magnet bagi kehidupan di sekitarnya. Di bawah naungannya, hiduplah seorang pemangku adat Hemente Wetakara yang karismatik, Kapitan Geo.

Rindang dan sejuknya pohon Langir mengubah ruang di bawahnya menjadi sebuah “aula alam”. Di sanalah Kapitan Geo bersama para tokoh adat lainnya kerap melingkar, memanen kebijaksanaan dalam setiap diskusi mengenai urusan kemasyarakatan dan pemerintahan. Tempat ini menjadi meja runding yang sakral; setiap sengketa diredam oleh semilir angin yang lewat di sela daun Langir, dan setiap persoalan pelik warga diselesaikan dengan kepala dingin di bawah naungan keteduhannya.

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Transisi besar terjadi pada tahun 1967 dengan lahirnya kebijakan “Desa Gaya Baru”. Wilayah-wilayah yang tersebar dari timur Habigahar, Habiwetak, Wetak, Weko, hingga Kamet, dipersatukan dalam satu payung otoritas. Kapitan Geo dipercaya menjadi Penjabat Kepala Desa pertama. Dalam sebuah mufakat yang bersejarah, identitas botani “Langir” terpilih sebagai nama desa. Pilihan ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah pernyataan filosofis.

Sebagai pohon, Langir memulai eksistensinya dari tunas yang rapuh, lalu berjuang menembus tanah hingga tumbuh menjadi raksasa yang melindungi. Filosofi inilah yang menjadi napas bagi Desa Langir: keinginan untuk terus bertumbuh dan memberikan perlindungan. Aturan hukum adat dan hukum desa yang lahir di sini diharapkan berfungsi seperti dahan Langir—memberi rasa aman dari “terik” ketidakadilan dan menjamin hak-hak dasar warga terpenuhi dalam kedamaian.

Waktu membuktikan bahwa Desa Langir memiliki daya hidup seperti pohonnya. Desa ini terus melebarkan “cabang-cabangnya” melalui pertumbuhan penduduk dan lahirnya permukiman baru seperti Magedoa dan Lokaria.

Hingga pada tahun 1999, di bawah kepemimpinan Yohanes Kasian, Desa Langir menunjukkan kematangannya. Untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, sebuah keputusan besar diambil: pemekaran wilayah. Desa Langir yang luas—yang berbatasan dengan Watuliwung di timur, Watugong di barat, pesisir Lokaria di utara, dan Teka Iku di selatan—merelakan sebagian dirinya. Dari “rahim” Langir, lahirlah sebuah entitas baru yang kembali mengambil nama botani masa lalu: Desa Habi. Kini, Langir dan Habi berdiri berdampingan, dua bersaudara yang tumbuh dari akar sejarah yang sama, terus bersemi di bawah langit Kangae. (*)

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement