BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
BUDAYA
Home » Blog » Dari Bungat ke Kamet lalu ke Lurun Duna: Hikayat Tiga Identitas

Dari Bungat ke Kamet lalu ke Lurun Duna: Hikayat Tiga Identitas

Oleh: Yosef Sumanto

Selasa pagi itu, jarum jam menunjuk angka 10.00 WITA. Deru mesin Jupiter MX membelah jalanan aspal baru menuju Natar Kamet.

Aspal ini bukan sekadar material konstruksi; ia adalah simbol perjuangan warga yang menanti selama 27 tahun, sejak terakhir kali dikerjakan pada 1997. Melalui kunjungan kerja tokoh-tokoh seperti Pak Melchias Mekeng, Us Bapa, dan Roby Tulus di kediaman Mo’at Blasius, jalan sepanjang 800 meter ini akhirnya kembali mulus.

Namun, kenyamanan aspal baru itu segera berganti dengan getaran di lubang-lubang jalan yang belum tersentuh perbaikan sekitar 600 meter berikutnya. Ban belakang yang kurang angin memaksa laju motor melambat saat menuruni napun (kali mati) Weko, memasuki gerbang kampung Kamet yang bersahaja.

Kedai Cerita di Bawah Pohon Johar

Motor berhenti tepat di depan rumah Bapak Fabianus Site, atau yang akrab disapa Bapak Pabi, ayahanda dari Yakobus Kiok. Di belakang rumah, di bawah rindangnya pohon johar yang sejuk, waktu seolah berhenti. Di sana duduk Kobus Kiok dan Hendra, sedang menikmati kopi pagi dengan asap rokok yang mengepul di sela jemari.

Kedatangan saya memutus obrolan mereka sesaat. Bapak Pabi kemudian keluar dari rumah, menenteng plastik putih berisi tembakau asli—”emas hijau” kesukaannya. Sambil melinting tembakau, Bapak Pabi mulai membuka lembaran sejarah tentang Natar Weko dan Kamet. Siang itu, kami diajak berkelana kembali ke masa awal 1900-an.

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Identitas Pertama: Bungat yang Berbunga

Jauh sebelum dikenal sebagai Kamet, wilayah di ujung barat Desa Langir, Kecamatan Kangae ini memiliki identitas awal: Bungat. Nama ini berakar dari kata “Bunga”.

Sebelum tahun 1950-an, saat Indonesia masih dalam bayang-bayang pendudukan Jepang, wilayah ini belum berpenghuni. Bungat adalah hamparan lahan kosong yang hanya ditumbuhi rumput liar. Namun, di balik kekosongan itu, alam melukis keindahan. Tanaman liar seperti kamet dan putri malu tumbuh subur, memamerkan kembang-kembang yang indah di sepanjang lahan. Karena estetika alam yang penuh bunga itulah, para pemilik lahan—yang saat itu hanya datang untuk menanam jagung—menyebutnya sebagai Bungat.

Identitas Kedua: Kamet dan Struktur “Natar Mapan”

Seiring berjalannya waktu, setelah era pendudukan Jepang, hamparan ini mulai dihuni secara menetap. Keluarga Mo’at Pabi Site menjadi pionir, disusul oleh Mo’at Dagang Nurak lalu Philipus Pili dari Weko. Migrasi besar-besaran kemudian terjadi dari Gedo Klotong Bola, Teteng Kloangkoja, hingga suku Lio dan Tana Ai, membentuk sebuah pemukiman baru yang heterogen namun harmonis.

Pada fase inilah nama Kamet mengukuhkan diri. Secara etimologi, Kamet adalah nama jenis tumbuhan melata yang berduri di setiap pangkal kayunya. Masyarakat setempat mengenal ungkapan “Kamet Bain Natar Mapan”.

Uniknya, Kamet disebut sebagai Natar Mapan (Kampung Palang) karena konstruksi pemukimannya. Berbeda dengan kampung-kampung lain di Desa Langir yang umumnya mengikuti garis perbukitan utara-selatan, rumah-rumah di Kamet dibangun mengikuti jalan tanah yang membentang dari timur ke barat (dari Weko menuju Teteng Kloangkoja). Posisi rumah yang berada di sisi atas dan bawah jalan inilah yang memberikan identitas visual yang khas.

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

Identitas Ketiga: Lurun Duna dan Memori Kemanusiaan

Tahun 1999 menjadi tonggak administratif baru. Desa Langir mengalami pemekaran, dan Kamet yang sebelumnya berada di bawah Dusun Weko, akhirnya berdiri menjadi dusun sendiri. Namun, nama yang dipilih untuk dusun tersebut bukanlah Dusun Kamet, melainkan Dusun Lurun Duna.

Jika Kamet merepresentasikan identitas vegetasi, maka Lurun Duna merepresentasikan memori kemanusiaan. Dalam bahasa Sikka:

  • Lurun berarti kuah sayur.
  • Duna (dari kata dunan) berarti tidak sampai atau tidak kebagian.

Nama ini lahir dari sebuah peristiwa memilukan di masa lampau. Konon, saat terjadi wabah kelaparan, ada pembagian makanan untuk warga. Distribusi dimulai dari arah timur, namun saat mencapai ujung barat kampung, persediaan kuah sayur telah habis. Sebagian warga hanya mendapatkan nasi tanpa kuah—sebuah fragmen kesedihan yang terekam dalam memori kolektif. Untuk menghargai sejarah dan rasa senasib sepenanggungan itu, nama Lurun Duna pun diabadikan hingga saat ini.

Di bawah pohon johar itu, ditemani sisa kopi yang mulai dingin, saya menyadari bahwa Kamet bukan sekadar titik koordinat di peta Desa Langir Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka NTT. Ia adalah sebuah narasi tentang bunga yang pernah mekar (Bungat), duri yang melindungi (Kamet), dan rasa syukur atas kuah sayur yang (pernah) tidak sampai (Lurun Duna). Tiga identitas, satu jiwa masyarakat yang terus bertumbuh di atas aspal perjuangan. (*)

Pemimpin

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement