Catatan: Yosef Sumanto
Matahari belum lagi tinggi di ufuk Keuskupan Maumere, namun denyut nadi di tanah Sikka telah berdetak lebih cepat. Udara pagi itu tidak hanya membawa aroma tanah Flores yang khas, tetapi juga kehangatan komunal yang magis.
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tahun ini bukan sekadar lingkaran kalender liturgi yang berulang; ia adalah sebuah muara besar di mana air teologi Kristiani yang kudus bertemu dan menyatu tanpa sekat dengan arus kosmologi Sikka yang purba.
Sebanyak 5.359 anak bersiap melangkah menuju altar dengan pakaian putih bersih, tepat di hari Minggu, 7 Juni 2026 besok. Di tangan mereka, lilin-lilin kecil akan menyala, menandai langkah perdana mereka menyambut Sakramen Komuni Pertama. Namun, di tanah berundak ini—sebuah lanskap yang tidak hanya melambangkan topografi bukit-bukit Flores, tetapi juga tingkatan silsilah dan hierarki penghormatan adat yang rapi—iman tidak pernah dikurung di dalam keheningan dinding-dinding gereja. Ketika ritus sakral di altar selesai, perayaan itu meluber keluar, menjelma menjadi sebuah perjumpaan budaya kolosal yang menggetarkan seluruh rahim bumi Sikka.
Rangkaian perayaan ini menjadi panggung bagi sebuah perjamuan agung yang panjang. Altar gereja seolah diperpanjang hingga menyentuh meja-meja perjamuan di ribuan rumah. Kristus yang membagikan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur kini dihadirkan kembali oleh keluarga melalui hidangan dan kegembiraan bersama. Di sinilah matematika ekonomi modern dipaksa tunduk pada kearifan antropologi lokal.
Estimasi dana sebesar Rp75 miliar yang berputar melalui penyembelihan lebih dari sepuluh ribu ekor babi, sekilas mungkin terdengar konsumtif di telinga orang luar. Namun, bagi masyarakat Sikka, babi bukanlah sekadar komoditas peternakan atau pemborosan materi. Hewan ini adalah simbol sakral dari kesuburan rahim, kontinuitas kehidupan, serta instrumen utama dalam ekonomi resiproksitas.
Uang dan ternak yang mengalir tidak pernah hilang; mereka berputar di antara para peternak, petani, dan penenun lokal, lalu dicatat dalam ingatan kolektif sebagai investasi kultural dan komitmen persaudaraan yang akan saling dikembalikan di masa depan. Ini adalah jaring pengaman tradisional yang menjaga klan tetap hidup dan solid.
Saat ritus tama benu digelar, gerbang rumah-rumah dibuka lebar untuk menerima keluarga besar. Di sudut pelataran, darah babi ditumpahkan ke bumi sebagai medium sakral yang mendinginkan kosmos dan menyegel perjanjian. Di sinilah momen mistis di mana dogma Katolik tentang Communio Sanctorum—Persekutuan Para Kudus—tidak lagi menjadi lembaran teks teologi yang rumit, melainkan realitas yang bernapas.
Melalui pemberian makan kepada leluhur (nitun noan), masyarakat Sikka meruntuhkan pembatas antara dimensi dunia materi dan dunia roh. Mereka percaya bahwa dalam momentum ini, gereja peziarah yang ada di bumi sedang berpesta bersama jemaat surgawi dan para leluhur yang telah tiada. Anak yang menerima Komuni Pertama tidak hanya diperkenalkan kepada komunitas altar, tetapi juga disambung kembali akarnya dengan rantai silsilah suci para pendahulu mereka di hadapan Allah.
Bersamaan dengan itu, struktur “Segitiga Emas” kekerabatan Sikka berdiri dengan begitu megahnya. Perayaan ini bertindak sebagai Rite of Passage, sebuah ritus peralihan yang mendidik sang anak tentang siapa dirinya dalam tatanan kosmis. Satu per satu rombongan klan berdatangan membawa simbol-simbol kehidupan. Pihak Ina Ama (keluarga ibu) datang dengan langkah anggun, menjunjung kain sarung utan dan lipa, beras, serta babi—sebuah pemaknaan mendalam terhadap rahim yang melahirkan, memberi makan, dan melestarikan keturunan.
Dari pihak Me Pu (saudari ayah) hadir membawa uang dan harga diri, menegaskan perlindungan hukum dan status sosial sang anak dalam klan. Sementara itu, riuh rendah suara Wue Wari (saudara kandung dan sepupu) datang membawa segala materi pendukung, mengikat simpul solidaritas horizontal yang memastikan bahwa dalam mengarungi badai hidup ke depan, sang anak tidak akan pernah berjalan sendirian.
Melalui gemuruh persaudaraan dari 42 paroki—mulai dari ratusan anak yang berkumpul di Thomas Morus dan Katedral, hingga belasan anak di Paroki Teluk—peristiwa iman dan budaya di Sikka ini pada akhirnya meninggalkan sebuah pesan reflektif yang kuat bagi kita semua: bahwa modernitas dan arus zaman tidak selalu harus menggerus identitas lokal. Ketika sebuah komunitas mampu merawat akarnya dengan bangga, ritus keagamaan tidak akan pernah terasa asing, dan tradisi leluhur tidak akan kehilangan relevansinya.
Melalui langkah kecil ribuan anak Sikka menuju altar yang diiringi oleh gemuruh persaudaraan seluruh klan, kita diingatkan kembali bahwa iman terbaik adalah iman yang membumi—iman yang bertumbuh, bernapas, dan dirayakan di dalam rahim kebudayaannya sendiri. Ambu lero wulan matan, mahi simba di’a gu’e daleng—semoga berkat Tuhan dan restu para leluhur senantiasa membungkus tanah Sikka dalam kedamaian dan kebersamaan yang abadi.
Rekapan Calon Komuni Pertama dari 42 Paroki se Keuskupan Maumere tahun 2026: Paroki Thomas Morus: 359 anak, Kewapante: 271 anak, Magepanda: 247 anak, Katedral: 242 anak, Watubala: 215 anak, Mauloo: 180 anak, Nangahure: 178 anak, Lela: 176 anak, Waioti: 166 anak, Bola: 165 anak, Halehebing: 165 anak, Lekebai: 163 anak, Nelle: 159 anak, Talibura: 146 anak, Wairita: 135 anak, Watublapi: 131 anak, Tilang: 126 anak, Runut: 125 anak, Nita: 122 anak, Nebe: 122 anak, Wolofeo: 121 anak, Kloangpopot: 119 anak, Wolonmaget: 112 anak, Tanarawa: 111 anak, Habi: 107 anak, Misir: 103 anak, Ili: 93 anak, Habibola: 93 anak, Uwa: 88 anak, Boganatar: 88 anak, Bloro: 86 anak, Bunuaria: 86 anak, Kloangrotat: 80 anak, Feondari: 78 anak, Lei: 72 anak, Masebewa: 69 anak, Koting: 62 anak, Bolawolon: 59 anak, Wairpelit: 56 anak, Kisa: 39 anak, Sikka: 32 anak dan Paroki Teluk: 12 anak. (*)




Comment