Oleh: Very Awales
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka
Tenun ikat bukan sekadar kain. Di dalam setiap helai benang tenun Sikka tersimpan identitas budaya, nilai sejarah, pengetahuan lokal, hingga jejak peradaban masyarakat Kabupaten Sikka yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, menjaga keberlanjutan tenun ikat sesungguhnya sama dengan menjaga memori kolektif dan jati diri daerah.
Namun di tengah arus modernisasi dan persaingan pasar yang semakin terbuka, para pengrajin tenun ikat masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan akses pemasaran. Banyak hasil karya berkualitas tinggi belum mampu menembus pasar yang lebih luas, padahal produk-produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan nilai budaya yang sangat tinggi.
Kondisi ini membutuhkan kehadiran pemerintah daerah, bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai penghubung antara pengrajin dengan pasar. Karena itu, langkah Ketua Dekranasda Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, SH menghadirkan NTT Mart by Dekranasda Kabupaten Sikka patut diapresiasi sebagai sebuah terobosan nyata dalam mendukung pelaku UMKM dan pengrajin tenun ikat lokal.
NTT Mart bukan hanya ruang penjualan produk. Lebih dari itu, NTT Mart dapat menjadi etalase budaya Kabupaten Sikka. Di tempat inilah karya-karya para Inang-Inang pengrajin tenun ikat mendapat ruang untuk dikenal, diapresiasi, dan dipasarkan secara lebih luas. Ketika produk lokal mendapat tempat yang layak, maka ekonomi masyarakat bergerak dan budaya daerah tetap hidup.
Kita harus menyadari bahwa tenun ikat Sikka memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak produk lain, yakni keaslian budaya. Penggunaan pewarna alami, motif tradisional, serta proses pengerjaan manual menjadi nilai eksklusif yang justru dicari pasar modern saat ini. Dunia sedang bergerak menuju produk yang ramah lingkungan, autentik, dan berbasis kearifan lokal. Tenun ikat Sikka sesungguhnya memiliki semua kekuatan itu.
Karena itu, dukungan terhadap pengrajin tidak boleh berhenti pada seremoni atau promosi sesaat. Harus ada ekosistem yang dibangun secara berkelanjutan, mulai dari pembinaan, peningkatan kualitas produk, penguatan literasi digital, pemasaran berbasis teknologi, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual terhadap motif-motif tenun khas Sikka.
Dalam perspektif literasi, tenun ikat juga merupakan sumber pengetahuan. Motif-motif tenun menyimpan cerita tentang alam, kehidupan sosial, nilai adat, bahkan filosofi hidup masyarakat Sikka. Artinya, pelestarian tenun ikat sejatinya juga bagian dari pelestarian literasi budaya daerah.
Karena itu, kolaborasi seluruh pihak sangat dibutuhkan. Pemerintah daerah, Dekranasda, pelaku usaha, lembaga pendidikan, komunitas literasi, hingga generasi muda harus bersama-sama menjaga dan mengembangkan tenun ikat Sikka agar tetap lestari dan mampu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Saya percaya, ketika produk lokal diberi ruang dan masyarakat didukung dengan kebijakan yang tepat, maka ekonomi kreatif daerah akan tumbuh kuat. NTT Mart dapat menjadi salah satu jalan menuju cita-cita besar itu: menghadirkan tenun ikat Sikka bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan masyarakat. (*)




Comment