BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
EDITORIAL
Home » Blog » Pemimpin

Pemimpin

Benediktus Kasman

Mengenal Sisi Lain Budaya Berpikir Pemimpin dari Masa ke Masa

Oleh: Benediktus Kasman

Ernest Hemingway, jurnalis The Toronto Star pada suatu kesempatan diundang untuk ikut ambil bagian dalam konferensi pers dengan Benito Mussolini. Hemingway yang berkebangsaan Amerika itu bersama jurnalis lainnya diantar masuk ke ruang kerja pemimpin Italia, Perdana Menteri dalam usia 39 tahun saat itu.

Mereka menyaksikan Mussolini sedang serius membaca buku. Jurnalis lain sedang menunggu waktu dimulainya konferensi pers. Tiba-tiba Hemingway berdiri berjingkrak mengintip dari belakang Mussolini untuk memperhatikan buku apa yang dibacanya. Ternyata sang diktator sedang membaca Kamus Prancis-Inggris tapi dipegangnya dalam posisi terbalik. 

Apa yang tengah bergolak dalam pikirannya sampai-sampai kamus ada ditangannya? Hartoyo, 2018:3 mengurai kamus adalah sebuah buku yang memuat kosakata yang disertai penjelasan dan penafsiran makna yang semua isinya disusun secara sistematis berdasarkan urutan alfabetis atau tematik.

Barangkali dari kamus ia menemukan makna bagaimana mencari tema jalan keluar dari krisis ekonomi yang mendera rakyat kecil pada 1922 akibat Perang Dunia Pertama. Ataukah kamus tersebut memuat makna magis baginya. Sebab membaca kamus secara terbalik adalah kebiasaan yang dilakukan Mussolini untuk melatih kemampuan otaknya, menguji memori, dan menguasai bahasa asing dengan cepat. Ia melatih pemikirannya dengan melihat arti suatu kata dalam bahasa Prancis atau Inggris lalu menebak padanan kata tersebut dalam bahasa Italia. 

Budaya berpikir pemimpin di dunia ini tak hanya punya kecerdasan rasional tapi juga kadang menggunakan usul saran dari paranormal dan astrologi. Effendi Gazali, 2024:239-234 dalam Siapa Mau Jadi Presiden menulis tokoh politik yang dikabarkan mempunyai pengawal dari ‘alam lain’ atau angka, hari tertentu. Ferdinand Marcos, presiden Filipina yang diktator dan korup selalu memilih angka dan tanggal 7 dan 11 untuk melaksanakan pemilihan umum atau referendum. Napoleon Bonaparte takut pada kucing berbulu hitam, dan sebaliknya Churchill ketika menyentuh kucing hitam akan membawa nasib baik. Roosevelt khawatir mengadakan perjalanan pada hari Jumat atau duduk di meja dengan jumlah total 13 belas orang. Pasangan Reagen mantan presiden Amerika Serikat mengaku bahwa mereka berkonsultasi dengan astrologi.

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Apa yang terjadi pada para pemimpin yang cerdas, hebat tapi kadang ironi? Jawabannya agak tak gampang terkuak dalam budaya pikiran manusia yang mendapat mandat rakyat untuk memimpin. Satu jawaban klasik: manusia adalah tempat benar dan salah! Tapi, dugaan lain bahwa mungkin dalam diri pemimpin masih tersandera keraguan. Rasa ragu-ragu akan teratasi setelah adanya pikiran berupa masukan atau putusan dari paranormal atau astrologi. 

Menonton konten-konten di YouTube atau membaca di Media Sosial perihal budaya berpikir dari pemimpin-pemimpin di Nusantara nan elok ini terasa ada ironi. Semuanya tampil cerdas tapi mungkin juga dengan teknologi digital melancarkan konsultasi dengan ramalan-ramalan mistis. Tentu ini respons arus perubahan global yang hadir di Ibu Pertiwi tercinta agar tidak dianggap gagap teknologi. 

Kini, pemimpin menghadapi Ekonomi digital yang butuh birokrasi yang gesit, kolaboratif dan bersumber data real time. Sayangnya masih terangkap kerja sektoral, prosedural dan amat berhatihati menanggung risiko kebijakan. Dan Dewan yang mewakili suara rakyat sibuk bikin konten ketimbang membuat undang-undang, pejabat salah omong, para menteri lomba pidato toh kadangkadang lupa tema. Ketika diberitahu bahwa omongannya tidak benar dan isi pidatonya keluar dari tema maka segera menemui pengawal astrolog atau peramal yang dipercayainya.

Toh, tak semua pemimpin memiliki pilihan bergandeng dengan petuah dan petitih dari yang punya kuasa titian ‘dunia gaib’. Rakyat kecil masih menaruh harapan pada pemimpin yang berkapasitas intelektual kritis walaupun sedikit jumlahnya. Dan pemimpin di Republik Indonesia masih tetap menerima pikiran kaum cendekiawan yang kritis. Juga dewan dari masa-masa selalu mendengarkan suara dan aspirasi rakyat. Ada turba (turun ke bawah) dan reses. Wakil terus turba dan reses untuk membuka hati rakyat kecil yang masih saja tertutup akan kebutuhannya. (*)

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

Related Posts

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement