Reportase: Yosef Suamnto
Jumat, 15/5/2026, malam sekitar pukul 19.30 WITA, suasana jalan utama dari Selodue menuju pertigaan SDI Habi sedikit berbeda. Selain umbul-umbul di setiap sisi jalan, diletakkan kulit pisang yang sudah dipotong kecil-kecil berukuran sekitar 20-30 cm. Di dalam lempengan kulit pisang tersebut, dipasang lilin-lilin kecil yang terus bernyala.
Suasana syahdu menampilkan visual malam yang temaram di bawah guyuran hujan yang tak kunjung henti. Tapak-tapak kaki umat Lingkungan St. Yoseph beradu waktu menuju pertigaan SDI Habi. Mereka datang berkumpul menjemput Inang Santa Maria Rosa Mystika yang diantar umat dari Lingkungan Wetak 2.
Meski hujan, hal itu tidak menyurutkan semangat anak-anak, remaja, hingga orang tua dari Lingkungan Selodue untuk menyambut Maria Bunda yang diimani sebagai teladan hidup umat Kristiani. Lebih kurang dua jam umat menanti di bawah guyuran hujan.
Ketua KBG Maria Bunda Karmel, Nona Servi, mengaku bersyukur atas peristiwa iman yang terjadi. “Semua atas penyelenggaraan Tuhan. Ia pula yang menggerakkan, sehingga meski hujan, semangat umat dari lima KBG Lingkungan Selodue tetap setia menunggu dan menjemput kehadiran Maria Rosa Mystika,” ungkapnya.
Sekitar pukul 21.10 WITA, arak-arakan arca dari Lingkungan St. Fransiskus Wetak 2 tiba di gerbang penjemputan. Doa penyerahan dalam syair adat dipadupadankan dengan gemulai tarian dari remaja lingkungan Wetak. Ritmis gong waning yang menghentak mempererat inkulturasi budaya sebagai persembahan terbaik untuk Inang Santa Maria.
Langit Habi yang gelap belum jua menghentikan siraman air dari langit. Seremoni serah terima berjalan dalam suasana khidmat. Doa dan nyanyian dalam bahasa Sikka terus dilantunkan dengan penuh penjiwaan.
Penyerahan Arca Maria Rosa Mystika ke Lingkungan Selodue disambut dengan sapaan adat dan tarian Hegong. Alam pun sepertinya turut merasakan sukacita umat. Teringat pesan salah seorang imam, “Sesuatu yang dikerjakan dengan iman, mukjizat itu nyata adanya.”
Hujan yang sempat membuat gundah berhenti tepat saat serah terima arca ditandai dengan peralihan para pengusung. Menariknya, pengusung dari Lingkungan Selodue kali ini berbeda dari biasanya: enam orang ibu muda bertindak sebagai pengusung arca.
Di bawah terang cahaya lilin, Arca Maria Rosa Mystika diarak menuju Gua Maria Lingkungan Selodue. Doa rosario dan lagu-lagu Maria memecah hening malam, membawa berkat dan syukur yang tak terhingga.
Ketua Lingkungan St. Yoseph Selodue, Lusia Edna Dua Kleruk, mengajak umat untuk bersama-sama memusatkan perhatian mendaraskan doa rosario dan devosi selama satu bulan arca berada di lingkungan mereka, sebelum nantinya dihantar ke Lingkungan Karolus Boromeus Kamet.

Akar Sejarah yang Tak Lekang Oleh Waktu
Keteguhan iman ini berakar dari sosok imam karismatik, Pater Karl Mahr, SVD. Gereja Habi yang menjadi kebanggaan umat hari ini adalah perwujudan dari nazar yang ia ucapkan di balik dinginnya penjara Tiongkok. Melalui devosi yang tak putus-putus, ia kemudian dibebaskan tanpa syarat.
Disaat beliau menjalani tugas pastoral di wilayah Paroki Habi, ia menghalau kegelapan animisme dan kekuatan mistik lainnya melalui devosi kepada Bunda Maria. Ia menghadirkan Arca Maria Rosa Mystika sebagai pusat doa dan simbol pemersatu antarwilayah.
Setiap tanggal 13, patung ini diarak dengan berjalan kaki mengunjungi kampung-kampung. Penggunaan obor dalam perarakan membawa pesan simbolis yang kuat: cahaya iman yang menghalau kegelapan. Ini mengingatkan umat bahwa mereka adalah “anak-anak terang” yang dipanggil untuk membawa damai.
Tradisi kunjungan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan refleksi dari peristiwa Maria mengunjungi Elisabet (Lukas 1:39-56). Sebagaimana Maria membawa sukacita keselamatan, tradisi ini diyakini membawa berkat Tuhan ke tengah pemukiman warga.
Warisan iman ini terus tumbuh subur di tanah Habi, menjadi bukti nyata kemenangan kuasa Tuhan. Kunjungan Arca Rosa Mystika bukan sekadar monumen masa lalu, melainkan “jantung” yang terus memompa iman umat dari generasi ke generasi. (*)




Comment