BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
Uncategorized
Home » Blog » Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Sayang Eung: Jejak Batin Tahun 1965

Catatan : Yosef Sumanto

“Dua kata yang terukir di atas salib itu, bukan sekadar nama, melainkan jeritan pengampunan di tengah kegelapan sejarah…”

Sejarah kelam tahun 1965-1966 di wilayah Habi, Sikka, Flores, menyisakan narasi yang getir namun penuh makna. Kisah pilu tentang ketidakberdayaan manusia di hadapan kekuasaan, dan juga tentang keteguhan iman dan belas kasih yang melampaui sekat ideologi.

Habi: Wilayah Netral yang Menjadi Saksi Bisu

Tahun 1966 membawa luka mendalam di seluruh pelosok negeri. Di Habi, suasana mencekam merayap di sela-sela dinding rumah warga. Ketakutan menjadi udara yang dihirup sehari-hari, terutama ketika daftar nama-nama organisasi yang dianggap terlarang mulai diperiksa oleh pihak berwenang.

Ironi terbesar bagi Habi bukan soal keterlibatan aktif warganya dalam pergolakan politik tersebut atau bagian dari antek PKI, melainkan letak geografisnya. Karena statusnya yang dianggap sebagai wilayah netral, Habi justru dipilih menjadi lokasi eksekusi bagi para tahanan politik (Tapol). Keputusan ini membawa awan hitam yang menggantung di atas langit Habi yang semula tenang.

Jejak Du’a Lero dan Transformasi Toponimi Ledalero

Detik-Detik Menegangkan di Pinggir Lubang

Malam-malam eksekusi adalah waktu yang paling menghantui ingatan kolektif masyarakat. Dalam salah satu peristiwa, sekitar dua belas orang tahanan dibawa menuju lokasi yang telah disiapkan. Sebuah lubang pemakaman massal telah digali secara paksa, menanti raga yang sebentar lagi akan kehilangan nyawanya.

Para “algojo” istilah bagi mereka yang ditugaskan negara untuk mengeksekusi menjalankan perintah dengan hati yang mungkin berkecamuk. Di tengah keheningan malam yang pecah oleh suara tembakan atau tebasan, hadir seorang saksi iman Pater Karl Mahr yang memilih untuk tidak berpaling.

Sayang Eung di atas Pusara tak Bernama

Pater Karl Mahr, seorang gembala jiwa, hadir di tengah situasi yang paling tidak manusiawi itu. Beliau mendampingi para terpidana mati dalam doa-doa terakhir mereka. Di bawah bayang-bayang maut, beliau membisikkan doa pengampunan, memohon agar amal baik mereka diterima dan mereka layak memasuki Kerajaan Surga.

Pemimpin

Dalam keheningan itu, beliau berbisik: “Rimu ata bian ele hala” Mereka tidak salah.

Setahun setelah peristiwa berdarah itu, sebagai bentuk penghormatan dan tanda duka yang mendalam, Pater Karl Mahr menanam sebuah salib di atas makam massal kedua belas orang tersebut. Di atas kayu salib, terukir dua kata dalam dialek lokal yang menggetarkan jiwa: “Sayang Eung“.

Sayang Eung memiliki kedalaman makna yang melampaui sekadar kata-kata:

Secara Bahasa (Dialek Lokal Sikka): Kata Sayang Eung berasal dari dialek lokal di wilayah Sikka. Kata Sayang dalam konteks ini mengandung nuansa kasih sayang sekaligus rasa iba yang mendalam (pity), sementara Eung adalah partikel penegas yang memperkuat luapan emosi atau rasa sedih yang dirasakan.

Jeritan Pengampunan: Sayang Eung bukan sekadar nama, melainkan “jeritan pengampunan.” Ini adalah cara Pater Karl Mahr memohon maaf kepada Tuhan dan kepada para korban atas kekejian yang terjadi di tengah kegelapan sejarah.

Di Ujung Pesa ada Habi Teong Wa’in

Simbol Perlawanan Kemanusiaan: Ungkapan ini merupakan bentuk protes sunyi seorang imam. Di tengah situasi kekuasaan begitu dominan dan menakutkan, Pater Mahr memilih menggunakan bahasa kasih: menolak kekejian operasi tersebut.

Rasa Iba dan Penyesalan: Kata Sayang Eung mencerminkan penyesalan mendalam atas hilangnya nyawa manusia yang dianggap tidak bersalah (“Rimu ata bian ele hala”). Ia merepresentasikan duka kolektif masyarakat Habi bagi mereka yang terjebak dalam pusaran konflik politik tanpa daya.

Pesan Rekonsiliasi: Dengan mengukir kata Sayang Eung di atas salib pemakaman massal, Pater Karl Mahr mengubah tempat eksekusi menjadi tempat pengingat akan pentingnya kasih sayang dan kemanusiaan agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

Sayang Eung adalah suara hati yang penuh cinta dan belas kasih yang muncul di tengah situasi yang paling tidak manusiawi. Doa di atas pusara yang dilakukan oleh Pater Karl Mahr memiliki kedalaman spiritual dan kemanusiaan yang sangat kuat:

Pengakuan Martabat Manusia:

Di saat negara melabeli para tahanan sebagai “terlarang” atau “bersalah”, kehadiran Pater Karl Mahr melalui doa adalah pengakuan bahwa mereka tetaplah manusia yang memiliki martabat di mata Tuhan.

Kesaksian atas Ketidakadilan: Bisikan “Rimu ata bian ele hala” (Mereka tidak salah) menunjukkan bahwa doa tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah pernyataan akan kebenaran dan pembelaan batin terhadap mereka yang dieksekusi tanpa keadilan yang jelas.

Jembatan Pengampunan: Doa tersebut berfungsi sebagai jembatan untuk memohonkan ampunan dan kedamaian bagi jiwa-jiwa yang terenggut secara tragis dan sekaligus menjadi bentuk perlawanan dalam diam terhadap kekejaman melalui kasih.

Awal dari Rekonsiliasi: Menanam salib bertuliskan Sayang Eung, adalah bentuk doa yangt bertransformasi menjadi simbol penyesalan kolektif dan kasih sayang (iba) yang melampaui konflik politik, mengubah tanah duka menjadi tanah yang disucikan oleh doa dan harapan.

Dari Tanah Duka Menjadi Tempat Harapan

Waktu berlalu, dan tanah yang pernah basah oleh darah itu kini telah bertransformasi. Di lokasi yang sama di atas tanah milik Bapak Gedeon Gedong kini berdiri tegak sebuah asrama putri untuk SMPK San Karlos Habi.

Transformasi ini memiliki makna simbolis yang sangat kuat bagi proses rekonsiliasi:

Penyucian Tempat: Tanah yang dulunya merupakan tempat eksekusi kini telah menjadi tempat persemaian ilmu dan pembentukan karakter bagi generasi muda.

Memori yang Hidup: Keberadaan asrama di atas tanah bersejarah ini menjadi pengingat bagi generasi penerus bahwa bahwa perdamaian adalah sesuatu yang sangat mahal dan harus dijaga dengan hati-hati.

Rekonsiliasi Alamiah: Suara tawa dan aktivitas para siswi asrama seolah-olah menjadi “doa harian” yang terus mengalir untuk mereka yang beristirahat di bawah tanah tersebut.

Kisah Sayang Eung di Habi adalah pengingat bagi kita semua bahwa di tengah kegelapan sejarah yang paling kelam sekalipun, cahaya kemanusiaan tidak pernah benar-benar padam. Melalui sosok seperti Pater Karl Mahr, cinta kasih tetap hidup dalam doa, dalam salib yang tertanam, dan dalam setiap langkah anak-anak yang kini menuntut ilmu di atas tanah yang telah disucikan oleh waktu dan pengampunan. (*)

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement