Pelataran Gedung Gereja Habi pagi itu tampak cerah. Di cakrawala langit Habi, kumpulan awan hitam sesekali melintas—hanya sebentar singgah, lalu pergi meninggalkan biru yang membentang.
Di balik celah fajar yang menyingsing, wajah gedung gereja kebanggaan umat Paroki Habi itu tampak kian kusam. Wajahnya adalah wajah yang renta dimakan usia; sebuah saksi bisu perjalanan iman selama lebih dari separuh abad. Tepatnya 61 tahun sejak pertama kali dibangun pada 1965.
Kidung rohani yang biasanya bergema merdu setiap pagi kini meredup, nyaris tak terdengar. Suasana sakral itu digantikan oleh gema suara palu dan gergaji yang menyelinap samar dari balik dinding gereja.
Ada rasa gundah yang menyeruak saat langkah kaki memasuki “labirin” gedung tersebut. Bangku-bangku gereja dan altar suci yang biasanya bersolek dengan riasan dekorasi yang anggun, kini menghilang dari pandangan.
Ruang yang biasanya penuh dengan barisan umat yang bersujud, kini dipenuhi tumpukan material: gundukan pasir, hamparan batu pecah, dan tumpukan semen. Mesin molen dan alat-alat kerja lainnya teronggok di sudut-sudut ruangan, menandakan sebuah transisi besar sedang terjadi.
Di bagian depan, tampak sentuhan baru mulai terbentuk. Tiang-tiang bambu penopang terpancang kokoh, menahan formasi cetakan balkon di atasnya. Balkon ini, “sayap bait Tuhan” yang baru, dihadirkan untuk menambah ruang kenyamanan dalam perayaan liturgi kelak.
Dibagian dinding gereja nampak celah-celah besar menganga. Jika sebelumnya hanya ada lubang-lubang kecil yang ditutup rapat dengan seng plastik, kini jendela-jendela itu sedang bersalin rupa. Kusen-kusen kayu bayam yang kokoh mulai terpasang satu demi satu, meski masih menyisakan empat lubang yang menunggu giliran.
Pagi itu sunyi dari keramaian umat. Hiruk-pikuk detak langkah kaki yang biasanya memenuhi gereja seakan diterbangkan oleh debu jalanan. Tidak ada kerja bakti massal hari itu; yang terlihat hanyalah kesibukan para tukang dan pembantu tukang yang setia dengan tugasnya.
Hanya suara palu dan gergaji memecah keheningan, diselingi candaan Laurensius Jeroni, seorang tukang dari Hedung Habigahar. Ia adalah sosok yang unik. Di balik suaranya yang keras dan pembawaannya yang tampak temperamental, ia menyimpan sisi humoris yang menyegarkan suasana.
Tangannya tetap presisi memasang kusen di dinding bagian timur, dibantu oleh Hengki, pembantu tukang dari Selodue. Dan, di sisi lain, Tukang Wilibordus dan pembantu tukang Yanto alias Skede dari Kamet, sibuk dengan rutinitas yang sama di dinding yang berbeda.
Pandangan lain terjadi di atas balkon yang baru saja dicor. Deru mesin potong terdengar nyaring. Yohanes Amandus tampak tertutup kepulan debu saat ia mengiris plesteran dinding tua agar mudah dipisahkan dari pasangan bata merah.
Mandus, umat dari KBG Binatang Timur itu, kemudian turun, beralih peran. Mesin molen yang tepat berada di tengah ruangan, seolah sedang menanti sentuhannya. Ia kemudian memperbaiki mesin molen dan mengganti olinya—memastikan “jantung”mesin itu tetap berdetak.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pria bertopi putih tampak tenang memegang meteran hijau. Ia adalah Petrus Kanisius, sang kepala tukang. Ia adalah pembeda. Moat Kani biasa ia disapa, bukan tipe kepala tukang yang hanya berdiri melipat tangan sambil menenteng gambar kerja sebagai simbol otoritas.
Ayah dua anak ini, berperan ganda; ia adalah pengawas teknik sekaligus pekerja yang menyatu dengan debu dan peluh. Baginya, setiap jengkal bangunan harus presisi. Saat mesin molen mulai menderu mengaduk campuran, ia berada di sana.
Moat Kani menerima ember cor dari Moat Mandus dan meneruskan ke tukang dan pembantu tukang; memastikan setiap celah di sekitar kusen jendela terisi penuh campuran hingga membatu dan mengokohkan rumah Tuhan ini.
Renovasi ini memang sebuah “jalan sunyi”. Tidak ada sorak-sorai, hanya ada kerja keras yang konsisten. Namun, di jalan sunyi ini, setiap dentuman palu sejatinya adalah doa yang melangit—sebuah upaya tulus untuk membangun kembali rumah bagi jiwa-jiwa di Habi.
***
Di tengah deru mesin molen yang memecah kesunyian, terdengar suara samar yang seolah mencoba meruntuhkan langit Habi. Awalnya sayup, namun kian lama kian nyaring. Gemanya menyapu pesisir Lokaria, dibawa angin senja terbang menuju perbukitan Hubin Wolomude, bahkan hingga menembus dinding Lepo Bispu di Keuskupan Maumere.
Gundah hati itu, tak mampu merasuki nalar sehat umat Habi. Sebanyak 90% umat Stasi Pusat memilih meninggalkan kenyamanan rumah mereka untuk menyatu dengan debu campuran semen dan pasir. Mereka hadir dengan setia setiap kali jadwal kerja diumumkan dari mimbar gereja.
Upaya sistemis yang sempat meragukan progres ini tak mampu menenggelamkan semangat para ibu. Justru tangan-tangan kasar ibu-ibu inilah yang menentukan arah dan kemajuan renovasi gedung gereja. Kehadiran kaum perempuan mendominasi jika dibanding kaum pria.
Langit yang cerah seolah dirundung awan gelap. Mengintai dibalik setiap celah, mempertanyakan kelanjutan renovasi—seolah pekerjaan mandek. Meski tak mampu meruntuhkan tembok optimisme umat, skenario itu justru berhasil menggerakan otoritas tertinggi gereja lokal.
Yang Mulia Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Sedu, akhirnya meninggalkan Lepo Bispu untuk menepi sejenak ke Gereja Habi. Monsinyur tidak datang sendirian; beliau didampingi oleh Dewan Keuangan dan Tim Teknis Keuskupan Maumere.
Di pendopo pastoran, Mgr. Edwaldus mendengarkan dengan saksama pemaparan mengenai kondisi dan situasi pekerjaan. Laporan disampaikan berturut-turut oleh: RD. Vinsensius Ferrer Mere Ende (Pastor Paroki Habi), Ketua Panitia Renovasi dan Simon Sebedeus (Ketua Stasi Pusat Paroki).
Mendengar laporan tersebut, Mgr. Edwaldus memberikan apresiasi tinggi terhadap setiap tahapan yang telah dilalui. Tahap pertama, yakni pembangunan candi, telah dinyatakan selesai. Saat ini, fokus beralih ke tahap kedua: renovasi dinding dan atap gedung gereja.
Dari pendopo, Uskup bersama rombongan ,di dampingi Pastor Paroki Habi, Ketua Panitia, Ketua Stasi Pusat Paroki dan Kepala Tukang, kemudian meninjau langsung pekerjaan balkon dan renovasi dinding yang sedang berjalan, serta melihat bangunan candi yang telah berdiri megah.
Selama kurang lebih setengah jam, setelah mengamati dan penjelasan teknik dari kepala tukang, tim teknis keuskupan melakukan pengujian menggunakan alat uji kelayakan beton. Beberapa bagian tiang gereja diuji secara saksama. Hasilnya menggembirakan: tim teknis merekomendasikan agar renovasi terus dilanjutkan.
Gereja Habi memang unik, sejarah telah membuktikan ketangguhannya, lebih dari sekadar angka di alat uji. Kekokohannya telah diuji oleh kekuatan alam yang luar biasa. Akurasinya dianggap lebih kuat dari alat uji apa pun buatan manusia.
Alam Habi menjadi saksi bahwa gedung gereja ini dibangun di atas fondasi iman yang telah teruji dibalik dinginnya jeruji penjara. Ia lebih kuat dari guncangan bumi, karena ia berdiri dalam bimbingan dan perlindungan Sang Arsitek Agung. (Yosef Sumanto).




Comment