Bagi banyak politisi, kekuasaan adalah tujuan utama. Namun, bagi Yoseph Karminto Eri, politik tampaknya dipahami sebagai perpanjangan dari pergulatan pemikiran.
Di lanskap politik lokal Kabupaten Sikka, nama Yoseph Karminto Eri muncul sebagai figur yang menempuh jalan panjang. Dari ruang refleksi filsafat hingga arena pengambilan kebijakan publik, menjadikannya sebagai seorang politisi yang handal. Ia ditempa oleh proses sosial dan kultural yang kompleks.
Akar Intelektual: Formasi Filsafat
Ia mengawali pembentukan dirinya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Maumere Flores NTT. Sebuah institusi yang dikenal melahirkan pemikir dengan sensibilitas sosial yang kuat telah memberinya cakrawala berpikir yang kritis dan sistematis.
Pendidikan filsafat bukan sekadar memberi kerangka berpikir abstrak, tetapi juga melatih kemampuan analisis kritis terhadap realitas, termasuk ketimpangan sosial dan problem pembangunan. Filsafat mendidik seseorang untuk melihat melampaui gejala permukaan. Dalam konteks kebijakan publik di Sikka, ini berarti kemampuan untuk:
- Menganalisis akar persoalan kemiskinan dan ketimpangan, bukan sekadar memberikan bantuan karitatif.
- Mengedepankan etika publik di atas kepentingan pragmatis kelompok.
- Menyusun narasi politik yang memiliki landasan moral yang kuat.
Transformasi Menjadi Aktivis
Sebelum terjun ke politik praktis melalui partai politik, keterlibatannya dalam gerakan sosial atau organisasi kemasyarakatan menjadi jembatan penting. Pengalaman ini memungkinkan Manto Eri, biasa ia disapa untuk “membumikan” teori-teori filsafat yang abstrak ke dalam realitas sosial masyarakat Sikka yang agraris dan religius.
Di luar ruang akademik, Manto Eri, aktif dalam Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sikka Santo Thomas Morus. Di organisasi ini, ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal—posisi strategis yang menuntut kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta keberanian menyuarakan kepentingan publik. Aktivisme ini menjadi laboratorium awal bagi pembentukan orientasi politiknya: berpihak pada masyarakat dan berakar pada nilai-nilai keadilan sosial.
Sebagai aktivis, ia belajar tentang seni mendengar—sebuah keterampilan yang seringkali hilang saat seseorang sudah duduk di kursi kekuasaan. Kedekatannya dengan akar rumput (grassroots) memastikan bahwa kebijakan yang ia perjuangkan nantinya bukanlah produk menara gading.
Fondasi Pedagogis dan Karakter
Pengalamannya di SMK St. Antonius Boganatar, SMPN 3 Maumere, hingga menjadi Dosen di Unipa, memberikan Manto Eri kemampuan komunikasi publik dan penguasaan konsep. Menariknya, ia tidak hanya fokus pada kurikulum teknis, tetapi pada pendidikan karakter dan kepemimpinan. Ini adalah modal utama bagi seorang politisi—kemampuan untuk menginspirasi dan mengarahkan.
Memahami Akar Rumput (Grounded Perspective)
Perpindahan peran menjadi fasilitator di berbagai lembaga internasional dan program nasional (2005–2011) mengubah cara pandangnya terhadap kebijakan publik:
- COREMAP: Memberinya pemahaman mendalam tentang ekologi pesisir dan ekonomi masyarakat nelayan di Kabupaten Sikka.
- Program Daerah Tertinggal: Mempertemukannya dengan realitas ketimpangan infrastruktur dan akses.
- PLAN International: Mengasah kemampuannya dalam advokasi hak-hak dasar, terutama di tingkat perdesaan.
Manto Eri memiliki keunggulan yang jarang dimiliki politisi “instan”: empati yang teruji. “Ia tidak hanya mendampingi, tapi juga ikut merasakan keterbatasan dan keterbelakangan akibat ketidakadilan sosial.”
Bagi Manto Eri, politik bukan sekadar angka atau retorika pembangunan, melainkan upaya konkret untuk menjawab jeritan masyarakat yang ia temui langsung di lapangan. Pengalaman ini membentuk karakter kebijakan yang “bottom-up”, bukan sekadar instruksi dari balik meja kantor.
Ia memosisikan dirinya sebagai sosok yang telah “lulus” dari ujian lapangan. Dengan kombinasi latar belakang akademis dan pengalaman fasilitator komunitas, ia memiliki modal kuat untuk merumuskan kebijakan yang relevan, manusiawi, dan tepat sasaran bagi masyarakat Sikka dan sekitarnya.
Panggung Politik Praktis
Pengabdian di ruang kelas dan keterlibatan aktif di tengah masyarakat ternyata belum cukup bagi sosok pria asal Nitung Palue ini. Panggilan hati untuk membawa perubahan yang lebih luas menuntunnya keluar dari zona nyaman menuju hiruk-pikuk politik praktis. Ia membawa karakter yang jujur dan apa adanya ke dalam kancah kepemimpinan daerah.
Ayah dua anak ini, memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai kendaraan politiknya. Langkah awalnya dimulai dengan kepercayaan besar ketika ia terpilih menjadi Sekretaris DPC PKB Sikka untuk periode 2008–2010. Masa jabatan ini menjadi batu loncatan penting di mana ia mengasah kemampuan manajerial organisasi dan komunikasi politik di tingkat akar rumput.
Menjadi Nakhoda DPC PKB Sikka
Keberhasilannya dalam mengonsolidasikan partai berbuah manis. Pada tahun 2010, melalui Musyawarah Cabang (Muscab) yang diselenggarakan di Nelle, ia secara resmi ditetapkan sebagai Ketua DPC PKB Sikka untuk Masa Bakti 2010–2015.
Kepemimpinannya yang dinilai stabil dan inklusif membuat kepercayaan para kader terus mengalir. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya kembali untuk memimpin DPC PKB Sikka pada periode-periode berikutnya: Masa Bakti 2015–2020 dan Masa Bakti 2021–2026.
Memasuki tahun 2026, dedikasi Manto Eri belum surut. Ia kembali masuk dalam bursa nominasi calon sementara Ketua DPC PKB Kabupaten Sikka untuk Masa Bakti 2026–2031.
Eksistensinya yang panjang di panggung politik Sikka menunjukkan bahwa ia bukan sekadar politisi musiman, melainkan seorang pemimpin yang tumbuh bersama aspirasi masyarakat Nitung Palue dan Kabupaten Sikka pada umumnya. Perjalanan dari ruang kelas menuju panggung politik praktis ini menjadi bukti bahwa pengabdian sejati tidak memiliki batas ruang, melainkan panggilan hati untuk melayani.
Sosok Fenomenal di Lepo Kulababong
Perjalanan politik di Kabupaten Sikka seringkali melahirkan tokoh-tokoh yang mewarnai dinamika lokal dengan gaya khas mereka. Salah satu sosok yang paling mencuri perhatian dalam satu dekade terakhir adalah Manto Eri. Dari awal yang sederhana dan tidak diperhitungkan hingga menjadi salah satu pilar kekuatan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Sikka.
Hasil Pemilu Legislatif tahun 2014 menjadi titik tolak bagi Manto Eri untuk menjejakkan kaki di Lepo Kulababong (Gedung DPRD Sikka). Sebagai pendatang baru, periode 2014-2019 ia gunakan sebagai masa pendalaman. Di panggung inilah ia mulai menyelami kerumitannya kebijakan politik anggaran.
Pada masa itu, pengaruhnya mungkin belum terlihat secara masif di permukaan. PKB Sikka saat itu hanya berhasil mengamankan dua kursi, membuat suara-suara perjuangannya terasa nyaring namun masih harus berjuang keras menembus dinding birokrasi dan dominasi partai-partai besar.
Puncak Fenomenal: Kebangkitan PKB (2019-2024)
Pemilu 2019 menjadi saksi kecermatan dan kepiawaian Manto Eri dalam meramu strategi politik. Di bawah pengaruh dan kerja kerasnya, PKB Sikka mengalami lonjakan signifikan. Dari partai kecil, PKB menjelma menjadi kekuatan pemenang kedua di Kabupaten Sikka setelah PDIP.
Pencapaian ini berbuah manis:
- 4 Kursi DPRD: PKB berhasil melipatgandakan perolehan kursi.
- Wakil Ketua I DPRD: Jabatan strategis ini dipercayakan kepada Manto Eri untuk masa bakti 2019-2024.
Keberhasilannya membawa PKB ke posisi “papan atas” menjadikannya sosok fenomenal dalam lanskap politik Nian Sikka.
Konsistensi di Tengah Dinamika (2024-Sekarang)
Dinamika politik selalu berputar. Pada Pemilu 2024, meski PKB tetap mampu mempertahankan 4 kursi, perolehan suara total menempatkan partai ini di peringkat keempat (setelah PDIP, Golkar, dan Perindo). Hal ini membuat Manto Eri tidak lagi menduduki kursi pimpinan, melainkan menjabat sebagai Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Sikka.
Namun, jabatan bukanlah pembatas baginya. Suaranya tetap lantang menyuarakan keadilan bagi masyarakat. Kekuatannya tidak hanya berada di dalam gedung legislatif, tetapi juga pada koneksinya ke tingkat Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB, yang ia gunakan untuk mempermudah jalur aspirasi masyarakat Sikka ke pusat.
Hal yang paling membedakan Manto Eri dengan rekan-rekan sejawatnya di Lepo Kulababong adalah cara ia mengelola dana Pokir (Pokok-Pokok Pikiran).
Di saat banyak politisi lain cenderung mengalokasikan dana aspirasi untuk bantuan jangka pendek yang hanya menyasar konstituen di dapil mereka, Manto Eri memilih jalur yang lebih fundamental: Pendidikan Vokasi.
Fokus Perjuangan:
- Beasiswa Komputer dan Digitaliasi: Memberikan akses gratis bagi warga Sikka untuk menguasai teknologi informasi, bekal untuk menuju gerbang dunia kerja.
- Lembaga Kursus Menjahit: Memberdayakan ekonomi kreatif masyarakat melalui keterampilan tangan.
- Kursus Organ Musik Gereja: Melestarikan budaya dan pelayanan religius yang kini manfaatnya tersebar di hampir seluruh wilayah Sikka.
Bagi Manto Eri, membangun kapasitas manusia melalui keahlian (skill) adalah kunci kemandirian ekonomi masyarakat Sikka di masa depan. Ia tampil apa adanya, namun dengan visi yang melampaui sekadar retorika pemilu.
Ia adalah representasi dari politisi “organik” yang memiliki kedalaman berpikir dan ketajaman bertindak. Tantangan ke depan baginya adalah bagaimana terus menjaga integritas filosofisnya di tengah badai pragmatisme politik yang seringkali menerjang ruang-ruang kekuasaan.
Akar Sosial: Palu’e Rahim Vulkanik
Manto Eri lahir dan dibesarkan di Kampung Nitung, Pulau Palu’e—sebuah titik vulkanik yang berdiri kokoh di barat daya Kabupaten Sikka. Pulau ini bukan sekadar wilayah administratif; ia adalah sebuah ekosistem yang menuntut penghuninya untuk memiliki kesadaran tinggi terhadap alam.
Sebagai pulau gunung api (Gunung Rokatenda), Palu’e menyajikan lanskap yang dramatis sekaligus menantang. Kondisi geografis yang keras, keterbatasan sumber daya air tawar, dan ancaman bencana alam yang konstan telah menjadi “guru” pertama bagi masyarakatnya.
Karakter Resiliensi dan Adaptabilitas
Lingkungan yang ekstrem secara alami menyeleksi dan membentuk mentalitas manusia di dalamnya. Bagi Yosep, tumbuh di Palu’e berarti tumbuh dengan nilai-nilai berikut:
- Ketangguhan (Grit): Kemampuan untuk terus bertahan di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
- Adaptabilitas: Kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan alam yang tidak menentu, sebuah kualitas yang sangat krusial dalam dunia politik yang dinamis.
- Resiliensi: Kemampuan untuk bangkit kembali setelah menghadapi tekanan atau kegagalan, sebagaimana masyarakat Palu’e yang selalu mampu memulihkan kehidupan pasca-erupsi.
Pemimpin yang Tahan Banting
Dalam kontestasi politik, asal-usul ini bukan sekadar catatan tempat lahir, melainkan sebuah narasi identitas yang kuat. Ia membawa citra sebagai sosok yang “lahir dari kesulitan.”
- Kepemimpinan di Bawah Tekanan: Latar belakang ini memberikan legitimasi bahwa ia memiliki mentalitas yang tidak mudah goyah saat menghadapi krisis.
- Solidaritas Komunitas: Identitas sebagai orang Palu’e mencerminkan keberpihakan pada mereka yang terbiasa menghadapi keterbatasan, menciptakan ikatan emosional dengan konstituen yang merasakan perjuangan serupa.
Akar sosial di Pulau Palu’e telah menyuntikkan karakter ketangguhan yang menjadi modalitas utama. Ia tidak hanya membawa nama daerahnya, tetapi juga membawa etos kerja dan daya tahan seorang penyintas gunung api ke dalam panggung kepemimpinan publik. Menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif seringkali lahir dari rahim perjuangan dan kedekatan dengan realitas geografis yang menantang.
Menuju Standar Baru Kepemimpinan
Yoseph Karminto Eri sedang menulis narasinya sendiri tentang tipe kepemimpinan baru di Sikka. Keberhasilannya di masa depan tidak akan diukur dari berapa periode ia menjabat, melainkan dari sejauh mana ia berhasil menjaga integritas intelektualnya di tengah godaan kekuasaan. Baginya, kekuasaan hanyalah alat, sedangkan keadilan adalah tujuan akhirnya. (Wiliam Toka/man).




Comment