BERNAS & JERNIH MELIHAT DUNIA
BUDAYA
Home » Blog » Konggregasi St. Ana Paroki Habi Nyalakan Api Iman Lewat Lomba Kitab Suci dan Liturgi

Konggregasi St. Ana Paroki Habi Nyalakan Api Iman Lewat Lomba Kitab Suci dan Liturgi

Reportase: Yosef Sumanto

Maumere, 26 September 2026 — Di bawah kerindangan pohon mangga yang menaungi pelataran rumah Bapak Akulinus Horipun, Selodue Desa Habi, suasana pagi itu terasa begitu hidup. Pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 09.30 Wita, pelataran yang biasanya tenang mendadak semarak.

Kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak anggota organisasi kategorial Konggregasi Santa Ana, Santu Yoakim, Santa Maria, dan Santo Yoseph dari Stasi Pusat Paroki Santa Maria Immakulata Asumptha Habi berkumpul dengan balutan busana adat Sikka yang memesona. Kombinasi warna putih, merah, kuning, dan hijau tampak kontras namun harmonis, memancarkan kebanggaan kultural yang berpadu indah dengan gelora iman Katolik.

Kehangatan langsung menyelimuti suasana dari pagi hingga sore hari. Meskipun usia rata-rata para peserta sudah tidak lagi muda, semangat yang terpancar dari wajah-wajah mereka justru melampaui energi orang muda kebanyakan. Hal ini terlihat nyata tatkala mereka dengan antusias dan seksama mengikuti setiap rangkaian acara yang dipersiapkan dengan matang oleh panitia.

Empat Wilayah, Satu Hati dalam Iman

Seksi Gender DPP Habi Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi dan Manajemen Keuangan Keluarga

Kegiatan ini diikuti oleh empat kelompok kontingen yang merepresentasikan wilayah pelayanan yang berbeda, yaitu:

  • Kelompok Habi
  • Kelompok Wetak
  • Kelompok Weko-Kamet
  • Kelompok Selodue-Magedoa

Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan wujud nyata kerinduan untuk merajut kebersamaan serta memperdalam spiritualitas melalui tiga mata perlombaan utama: Lomba Baca Kitab Suci, Kuis Kitab Suci, serta Identifikasi dan Penyusunan Perlengkapan Liturgi.

Riuh dan Alotnya Arena Lomba

Suasana kompetisi memuncak tatkala sesi Kuis Kitab Suci dimulai. Para ibu dan bapak dari keempat kelompok membuktikan bahwa usia senja sama sekali bukan halangan untuk menguasai isi Kitab Suci. Dengan tangkas dan kepala dingin, mereka melibas setiap pertanyaan yang diajukan Ibu Nelly, Guru SDI Habi dan Ibu Marsia, Kepala Sekolah SDI Henga.

Babak rebutan menjadi momen paling memukau sekaligus memancing gelak tawa. Ketangkasan para peserta begitu tinggi hingga beberapa kali juri harus menganulir pertanyaan karena bel sudah ditekan sebelum kalimat soal selesai dibacakan—sebuah bukti penguasaan materi yang luar biasa tajam.

Taman Doa Karmel: Kepingan Firdaus untuk Percakapan Manusia Beriman dengan Tuhan

Tak kalah menarik, perlombaan mengidentifikasi dan menyusun perlengkapan liturgi menyedot perhatian penonton. Para peserta tidak hanya mampu mengenali benda-benda suci yang digunakan dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga fasih menyebutkan nama latin dari setiap peralatan tersebut sebelum menyusunnya dengan presisi yang tepat.

Penilaian Objektif dan Pemenang Lomba

Setelah melalui persaingan ketat yang diamati langsung oleh tim juri—yang terdiri dari Diakon Selmus Nasi, Frater Martinus Paskalis Selvino, Ibu Barbara (Pensiunan Guru Agama Katolik), dan Ibu Maria Nona Selvi—berikut adalah rekapitulasi pemenang dari masing-masing kategori:

  • Lomba Baca Kitab Suci:
    1. Kelompok Habi
    2. Kelompok Selodue-Magedoa
    3. Kelompok Weko-Kamet
    4. Kelompok Wetak
  • Lomba Kuis Kitab Suci:
  • Kelompok Selodue-Magedoa
  • Kelompok Habi
  • Kelompok Weko-Kamet
  • Kelompok Wetak
  • Lomba Identifikasi & Penyusunan Perlengkapan Liturgi:
  • Kelompok Selodue-Magedoa
  • Kelompok Weko-Kamet
  • Kelompok Habi
  • Kelompok Wetak

Secara keseluruhan, Kelompok Selodue-Magedoa tampil sebagai bintang lapangan dengan mendominasi kemenangan di dua kategori lomba sekaligus.

Makna di Balik Kompetisi: Berakar dan Bertumbuh

Kebun Teh Wonosari: Bentangan Semak Hijau di Lereng Gunung Arjuno

Mengusung tema “Berakar dan Bertumbuh dalam Iman sesuai Teladan Santa Ana, Santu Yoakim, Santa Maria, dan Santo Yoseph”, kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ketua Stasi Pusat Paroki Habi, Simon Sebedeus.

Dalam sambutannya, Simon memberikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi dan antusiasme para peserta.

“Dilihat dari usia sesungguhnya sudah tidak muda lagi. Dengan mengambil bagian dan mengikuti perlombaan ini, sesungguhnya bukan soal kalah dan menang, tetapi soal bagaimana kita menghayati tentang firman Tuhan dan panggilan hidup rohani dalam meneladeni Santa Ana, Santu Yohakim, Santa Maria, dan Santo Yoseph,” ungkapnya penuh penekanan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia, Aspiran Santu Yoakim, Bapak Akulinus Horipun, menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini jauh melampaui piala atau penghargaan fisik. Perlombaan ini dirancang khusus untuk terus menggalang solidaritas, merawat rasa saling memiliki antar sesama anggota, serta menjaga kesetiaan dalam panggilan hidup beriman.

“Dan, perlombaan ini merupakan bagian dari upaya untuk terus menyalakan api iman anggota sehingga kelak dapat menjadi garam dan terang bagi keluarga, gereja, dan masyarakat,” pungkasnya.

Di bawah terik matahari siang yang perlahan mereda menuju sore, acara ditutup dengan senyum kemenangan, jabat tangan hangat, dan rasa persaudaraan yang semakin erat—menandakan bahwa buah-buah iman di Stasi Pusat Paroki Santa Maria Immakulata Asumptha Habi sungguh berakar kuat dan terus bertumbuh subur. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

× Advertisement
× Advertisement