Sebuah Tutur Lisan dari Desa Ribang Kecamatan Koting Kabupaten Sikka NTT.
Di bumi Sikka yang gersang namun kaya akan rahasia, setiap batu dan aliran air seolah memiliki lisan untuk bercerita. Jika Sumatera membanggakan ketangguhan Danau Toba dan Jawa memuja megahnya Candi Prambanan, maka di pelosok Kecamatan Koting, tepatnya di Desa Ribang, alam telah memahat sebuah nisan abadi bagi sepasang kekasih. Warga mengenalnya sebagai Watu Du’a La’i—Batu Perempuan dan Laki-laki.
Alkisah pada zaman yang telah lama terkubur oleh ingatan, wilayah Koting adalah tanah yang damai. Namun, takdir tidak selalu ramah. Suatu hari, ketenangan itu koyak oleh murka alam yang luar biasa. Langit menggelap, bumi bergetar hebat, dan deru air bah mengancam akan menghapus segala yang ada di atas tanah.
Pekik ketakutan memecah kesunyian. Warga berlarian tunggang-langgang, berusaha menyelamatkan diri dari kepungan bencana. Harta benda tak lagi berharga; nyawa adalah satu-satunya yang mereka bawa dalam pelarian menuju tempat yang lebih tinggi. Di tengah kekacauan itu, ada sepasang pengantin baru yang baru saja mengucap janji setia. Bagi mereka, dunia bukan hanya soal keselamatan diri, melainkan tentang menjaga genggaman tangan agar tak terlepas.
Pantangan yang Terabaikan
Dalam adat dan kepercayaan masyarakat setempat, ada sebuah pantangan sakral yang diwariskan turun-temurun: “Dalam pelarian menyelamatkan diri dari bencana, jangan sekali-kali mengarahkan pandangan ke belakang.” Larangan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan simbol keteguhan hati untuk meninggalkan masa lalu dan melangkah menuju keselamatan.
Namun, cinta dan ketakutan seringkali membuat manusia lupa. Di tengah gemuruh banjir dan runtuhnya tebing-tebing, sang suami dan istri itu tak kuasa menahan gejolak di dada. Mungkin mereka merasa berat meninggalkan rumah yang baru saja mereka bangun, atau mungkin ingin melihat sisa-sisa kehidupan yang mereka cintai untuk terakhir kalinya.
Dalam satu detik kekhilafan, mereka menoleh. Di saat pandangan mereka menyapu ke belakang, alam seolah berhenti berdetak. Nafas mereka tersengal, tubuh mereka mendingin, dan dalam hitungan napas, kulit mereka mengeras menjadi granit yang dingin. Mereka tak pernah mencapai puncak bukit; mereka menjadi bagian dari sungai itu sendiri.
Pahatan Alami di Napun Wair Koting
Hingga hari ini, di dasar Napun Wair Koting (Kali Wair Koting), saksi bisu peristiwa itu masih berdiri tegak. Wujud mereka tak lagi berdaging, melainkan menjelma menjadi bebatuan unik yang seolah dipahat oleh tangan-tangan gaib.
Alam memberikan tanda yang jelas bagi mereka yang melihat:
- Pahatan Bergaris Tunggal: Menandakan sang suami (La’i), lambang keteguhan yang kini membisu.
- Pahatan Dua Garis: Menandakan sang istri (Du’a), rapi dan alami, melambangkan kesetiaan yang tak lekang oleh waktu.
Masyarakat setempat menjaga batu ini bukan hanya sebagai objek wisata, melainkan sebagai peringatan tentang sakralnya sebuah pantangan dan takdir yang tak bisa ditawar.
Menuju Jejak Masa Lalu
Bagi Anda yang ingin menyentuh langsung dinginnya sejarah, Watu Du’a La’i menanti di sunyinya Napun Wair Koting. Perjalanannya adalah sebuah ziarah singkat menuju masa lalu:
- Rute Perjalanan: Anda dapat memulai langkah dari jembatan Wair Koting atau melintasi jalan setapak di Wair Pelit (di sebelah Galon QuaKita).
- Medan: Jalan tanah yang bersahabat akan menuntun Anda sejauh 500 meter.
- Waktu: Hanya butuh waktu 5 hingga 10 menit berjalan kaki untuk sampai ke lokasi di mana legenda ini bersemayam.
Pesan dari Kali Wair Koting
Watu Du’a La’i adalah cermin bagi kita semua. Ia bercerita tentang cinta yang sehidup semati, namun juga tentang pentingnya menghargai pesan leluhur. Saat Anda berdiri di depan batu tersebut, dengarkanlah gemericik air kali yang mengalir; ia seolah berbisik bahwa apa yang sudah dipahat oleh alam, tak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.
Kisah ini sebagaimana dituturkan Bapak Paulinus Badar Kepala Desa Ribang Kecamatan Koting, Sikka-NTT, Periode, 2003-2008,2009-2015, 2016-2022. (Yosef Sumanto).


Comment